Kamis, 19 Desember 2013

Malam Keseribu

Malam keseribu
Aku meneguk datarnya kopi secangkir
yang paginya menusuk rongga dan diafragma dada

Malam keseribu
Aku mereguk dingin
Menghitam hitamkan malam

Malam Keseribu
Aku menghitung hitung
Lalu bangkit



Malam Keseribu
Dengan seribu tanya
Bahwa debu akan terus terbang

Malam Keseribu
Saat kembali terbuka mata
Aku menggapai-gapai

Malam Keseribu
bahwa hidup adalah harapan
karena putus asa adalah kekufuran

20/12/2013
02.12
Jumat, 06 Desember 2013

Nulis, Nglukis

Kadang, sebelum menulis, menekan tuts-tuts keyboard, saya harus memikirkan apa yang akan saya tulis, manfaatnya, dasar-dasarnya, dan lain lain selama beberapa menit. Setengah jam. Satu Jam. Namun di saat yang lain, bisa terjadi begitu saja. Nyalakan Notebook, buka media untuk menulis (ms word, blog, dll), langsung terketik apa yang ingin saya tulis.

Menulis. Rasanya, bisa dipandang culun, jika sudah seusia kepala dua namun masih membahas soal menulis. Apalagi sebenarnya sejak awal SMP saya sudah suka menulis. Ah, tidak ada yang terlambat. Bahkan penulis dengan karya ratusan best seller pun, tidak culun sama sekali jika akhirnya ia lagi-lagi harus menulis tentang "menulis". Menulis itu seperti cinta. Cinta, akan ditulis terus sepanjang zaman. Dengan aneka judul yang ada, pembahasan yang ada. Ia akan terus ditulis. Cinta akn terus dikobarkan dan diceritakan.

Sama dengan menulis. Ia akan selalu ditulis, dikobarkan, agar orang-orang yang baru lahir ke dunia, akan membaca lebih banyak artikel atau jurnal tentang menulis setiap masanya.
dokumentasi pribadi

Dalam mencari inspirasi untuk menulis, memang perlu kita tentukan dulu niat kita menulis. Jika masih belum punya niat ideal untuk menulis, terus saja menulis. Untuk melatih kebijaksanaan, kepekaan, mengolah data yang pernah kita terima, menyajikan pengalaman yang pernah kita dapatkan, agar bisa kita bagikan pada orang lain.

Saya hobi menulis sekaligus melukis. Meski pada faktanya karya lukis saya jauh lebih banyak daripada karya saya yang berbentuk tulisan.  Keduanya adalah hobi yang "melankolis", memakai perasaan. Sebab itulah, saya sangat jarang bahkan payah untuk menuliskan hal-hal yang sifatnya sangat ilmiah maupun objektif, karena emosi saya sangatlah kental.

Suatu ketika saya benar-benar badmood, lelah, hampir tertekan, bingung, dengan tugas perkuliahan yang saya kerjakan. Kalau saat itu tiba, saya memilih untuk tidur. Berharap bermimpi indah sebagai penghibur. Namun ada tiga kebiasaan lain yang juga saya lakukan ketika kondisi itu hadir. Saya langsung meninggalkan tugas-tugas kuliah saya tadi.

Pertama, saya memilih untuk mengambil kanvas atau kertas dan alat lukis saya, lalu saya pun melukis. Melukis apapun, baik dari objek nyata maupun fantasi. Jika hal itu tak berhasil karena tidak punya inspirasi melukis, saya memutuskan untuk pergi ke pasar ikan hias dan melihat-lihat ikan hias yang ada di sana hingga puas dan merasa segar.

Hal ketiga yang saya lakukan adalah pergi ke toko buku. Bukan untuk membeli, membeli adalah pilihan kesekian saya, sementara membaca di tempat, adalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama ketika ke toko buku, justru adalah menyegarkan mata dengan melihat aneka desain dan warna cover-cover buku. Yang ujung-ujungnya setelah pulang dan sampai kamar, saya kembali menyusun ingatan-ingatan tentang warna tadi ke dalam kanvas untuk melukiskannya. Saya tidak hendak memindahkan cover buku di toko buku ke kanvas, melainkan saya mentransfer suasana hati ketika melihat cover-cover itu, ke dalam kanvas yang saya punya. Sangat menyenangkan.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Saya bisa dapatkan di luar, di sela-sela pepohonan, usai menonton film, dan banyak lagi.

Rabu, 04 Desember 2013

Menuju Nikah

Muslim_Couple__Lebanon__by_SDagher
Bismillah...
Berat banget nulis ini. Serius, ini memang pembahasan berat. :D
tapi tenang, dengan kapasitas saya ini, apalagi belum menikah,
saya tidak akan panjang lebar kok.

Cuma ingin berbagi, hehe..
ini ada link keren ^^
silahkan di buka yaa..

MenujuNikah

Semoga bermanfaat ^^

Dua Kutub

Memiliki dua hobi yang banyak, dimana hobi-hobi, atau kesukaan tersebut memiliki dua kutub yang sangat berjauhan dan saling kontradiksi, membuat hidup menjadi seimbang. Kurasa.

Di satu kutub bernama kelembutan, berkumpullah "melukis", "berkebun", "menulis", "mencari inspirasi dengan menghirup nafas pepohonan", dan sebagainya. Sementara di kutub lain bernama "Kekuatan", berkumpullah "berkuda", "memanah", mendaki", "menjelajah", dan sejenisnya.

Semua itu sangat nikmat. Suatu kenikmatan. Adalah keseimbangan.
Itu berarti kau memiliki memiliki kekuatan, namun kau tetap lembut.
Dan saat kau (aku?) menuliskan ini semua, kutub "kelembutan" sedang "bekerja".
:)

#EdisiIntermezo

Minggu, 01 Desember 2013

Indonesia Diambang Kehancuran : PEKAN KONDOM NASIONAL

Dari data statistik yang dimuat  http://www.spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1,

Statistik Kasus AIDS di Indonesia – dilapor s/d Juni 2013









Dalam triwulan April s.d. Juni 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS sebagaimana berikut:
  • HIV: 5369
  • AIDS: 460
Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 30 Juni 2013 adalah:
  • HIV: 10210
  • AIDS: 780
Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 30 Juni 2013, terdiri dari:
  • HIV: 108600
  • AIDS: 43667
sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI
1 Desember ini, merupakan hari peringatan AIDS sedunia. Alih-alih memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjauhi sumber penularan HIV/AIDS, kemenkes dan KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) malah melaksanakan program PKN atau Pekan Kondom Nasional yang akan diadakan dari tanggal 1 sampai 7 Desember 2013. Dalam PKN, program yang dilakukan adalah pembagian kondom gratis ke seluruh lapisan masyarakat.

Apa yang ada dipikiran anda? Ya, benar. Negeri ini semakin terancam, sudah krisis moral, eh akan ditambahkan lagi kerusakan moralnya melalui "solusi kondom". Seakan-akan, melalui program ini, kemenkes, pemerintah, yang mewakili generasi tua, berbicara kepada generasi muda, anak-anaknya sendiri, "Nak, silahkan kalian melakukan seks bebas, asalkan ada kondom, kalian akan bebas AIDS, (lalu bebas hamil, dst)" Subhanallah...

Padahal, kalau kita mau berpikir, itu tidak menyelesaikan masalah sama sekali, malah menambah angka penyebaran AIDS yang kita ketahui sebagian besar terjadi karena freesex, dan daerah penyebarannya di lokalisasi-lokalisasi tempat pelacuran. Mengapa bukan solusi? Ukuran pori-pori kondom adalah 0,1 mikron, sementara ukuran virus HIV/AIDS adalah 0,004 mikron. Jadi dengan mudah virus tetap bisa menyeberang melalui kondom.

Bukankah Islam telah mempunyai Solusi, yaitu jangan mendekati zina? inilah yang harusnya disosialisasikan kepada generasi muda. Dengan menjauhi zina, tempat-tempat pelacuran, menghambat freesex, maka angka penularan HIV/AIDS otomatis akan berkurang.

Jika ingin merusak generasi bangsa ini, inilah caranya, melalui Pekan Kondom Nasional. Tidak takutkah apabila ada Tsunami jilid dua sebagai azab kemerosotan moral bangsa ini? Inilah jika negara ini berhukum dengan hukum yang bukan berasal dari Hukum Allah. Semaunya sendiri, mengikuti kehendak arus mayoritas negara liberal.

Betapa parahnya negeri ini, astaghfirullah...






Jumat, 29 November 2013

Sesuai Kapasitas (Bagian 2)

image source : http://estotevaagustar.files.wordpress.com/
Ada solusi ketiga, yang saya tawarkan, (bahasanya semacam.. seolah.. seperti.. saya seorang pakar hehe)
Jika dalam postingan yang lalu, bagian 1, saya menyebutkan dua solusi, yang pertama adalah, menuliskan hal-hal kecil, ringan namun bermanfaat, lalu yang kedua, adalah menggali ilmu sebanyak-banyaknya yang tentu juga dengan memahami seutuhnya, sebagai bekal untuk menuliskan suatu yang besar manfaatnya, namun berat juga pembahasannya, maka solusi ketiga yang saya tawarkan untuk memberi manfaat yang cukup besar adalah the Power of CoPas alias Copy-Paste.

Eits.. tidak selamanya lho copas itu berarti buruk, plagiat. Tentu saja boleh, asalkan tetap menjaga adab-adabnya. Apa itu? cantumkanlah sumbernya, darimana mendapatkannya. Jangan sampai, seakan blog kita, atau tulisan kita super intelek bin keren, eh ternyata oh ternyata, hasil plagiasi, alias copy paste tak bertanggung jawab, aslinya dari sumber X, tapi tanpa kita sadari seakan ngaku-ngaku itu karya tulis kita karena lupa atau sengaja tidak menuliskan sumbernya. Belum lagi kalau nanti penulis atau pemilik sumber aslinya jadi menuntut kita secara hukum, bisa berabe kan? nah lho. Ah.. urusan etika ilmiah untuk menghindari plagiasi, bisa kita pelajari lebih dalam di sumber-sumber lain yang bertebaran. Silahkan....

Lalu apa manfaatnya CoPas yang bertanggung jawab? Yang pertama, membantu kita untuk berbagi pengetahuan yang "berat" dan manfaatnya besar kepada orang lain, disaat kita merasa belum berkapasitas menuliskannya. Kedua, saat memilah artikel "berat" otomatis kita pun jadi ikut membaca, menjadi bijaksana untuk memfilter, apakah layak artikel tersebut untuk dibaca orang lain. Misalkan kita sudah memahami mengenai tata cara sholat yang benar sesuai tuntunan rosulullah, namun kita sangat tidak berkapasitas menuliskannya sendiri, maka bisa saja kita tinggal CoPas dari situs-situs Islami terpercaya, membantu menyebarkan, menjadikannya bernilai dakwah pula. Tapi ingat ya, cantumkan sumbernya ^^
Allahu a'lam






Sesuai Kapasitas

image source : RNfitriani.blogspot.com
Boleh, bahkan harus, untuk bertekad memberi manfaat sebanyak mungkin. Berharap tulisan-tulisan yang kita buat, menjadi manfaat dan warisan untuk peradaban. Mengalirkan pahala jariyah yang begitu menyenangkan.
Namun, tetaplah sesuai kapasitas.

Karena, manfaat sekecil apapun, selama itu masih dalam jangkauan kapasitas kita, ia akan mengalir menjadi pahala. Yang ringan saja. Daripada mencoba menuliskan sesuatu yang memang besar manfaatnya, tapi perlu ilmu yang mendalam, rumit teorinya, karena jika ada kesalahan sedikit saja, bisa jadi kacau pemahaman seseorang yang membaca. Ia kalau sedikit, kalau hanya satu orang, jika ratusan, ribuan orang?

Hilanglah pahala yang diharap, malah bisa jadi dosa berlimpah. Ini adalah kesadaran bagi siapapun, terutama diri sendiri, buat apa menulis yang berat-berat, tapi ilmu yang harus dikuasai banyak, bukan kapasitas kita. Jadi apa solusinya? Menulislah yang ringan, tapi tetap bermanfaat, atau gali ilmu sebanyak-banyaknya, untuk bekal menulis yang berat, dan bermanfaat besar. ^^

Allahu a'lam
Senin, 25 November 2013

Warisan untuk Peradaban

image from wikipedia
Menulis, membuat buku,
ah saya mungkin sangat tak layak membahasnya, jam terbang saya menulis sangat miskin. Masih tergantung mood, sering sebagai penyaluran rasa "galau" semata. Apalagi membuat buku, sudah syukur tiga tulisan saya pernah masuk dalam dua buku antologi. Sehingga untuk menuliskan pembahasan ini, saya pribadi merasa tidak berkompetensi, atau malah terkesan sok tahu. Tapi tidak apalah, bukankah di tulisan saya sebelumnya saya membahas bahwa menulis adalah sebuah proses untuk mengasah, mengolah kebijaksanaan?

Menulis, berkarya, bisa kita lakukan untuk sekadar menyalurkan emosi, perasaan, memenuhi hobi harian. Bisa pula untuk tujuan komersil. Namun saya cukup merasa terangsang dan tertantang dengan "Warisan Peradaban". Bermula dari latihan memanah, saya berbincang dengan rekan saya, penghuni kos yang baru, dia kuliah di jurusan Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo.

Awalnya kami seru membahas mengenai panah, kali ini saya agak "keren" menjadi narasumber dadakan, yang tentu saja saya tidak mengarang dalam hal ini, namun pernah membaca beberapa referensi mengenai panah, maupun pembahasan langsung oleh pakarnya, yaitu pelatih saya sendiri. Singkat cerita, pembahasan kami akhirnya sampai mengenai seni berperang, dan membahas mengenai buku "Art of War" yang ditulis Sun Tzu, seorang Jenderal Militer, ahli strategi, sekaligus filsus dari China yang hidup pada tahun 544-496 Sebelum Masehi.

Kali ini, gantian teman saya yang menjadi narasumbernya, maklum dia adalah mahasiswa jurusan Sejarah, jadi memang bidangnya, hingga dia berkata bahwa Sun Tzu telah memberi warisan peradaban, kitab Art of Warnya sampai kini masih dibaca jutaan orang, para penerbit menerbitkan, bukan untuk mencari keuntungan, Sun Tzu yang telah lama tiada pun, sudah tak memerlukan royalti. Semua terjadi begitu saja, karena karyanya menjadi sumbangsih yang besar terhadap peradaban di bumi.

Begitupun Al-Qur'an yang tentu tidak berbanding dengan tulisan manusia, ia adalah wahyu Ilahi.
Al-Qur'an terus dicetak, bukan untuk keuntungan, apalagi itu merupakan perkataan Allah, yang terjaga keasliannya, karena Allah telah berjanji untuk menjaganya hingga hari kiamat. Sehingga ada badan-badan waqaf yang memang bertugas mencetak Al-Qur'an yang merupakan kitab mulia berisi wahyu dari Allah. Maka pahala jariyahnya tentu akan didapatkan oleh siapa saja yang menyumbangkan atau turut andil dalam mencetak dan menyebar luaskan Al-Qur'an.

Akhirnya saya sedikit terpancing, benar juga, menulis itu bukan sekadar mencari royalti, itu hanya efek, sedangkan menjadikan royalti sebagai tujuan utama menulis, adalah suatu hal yang rendah nilainya. Menulis adalah, menyumbang pemikiran, ide, untuk peradaban, generasi selanjutnya, sebuah legacy. Menjadi sebuah amal jariyah yang besar jika apa yang kita tulis berisi kebaikan, terus diterbitkan dan dibaca banyak orang.
Kalau begitu, tumbuhkan saja niat menulis adalah untuk Allah tentunya, lalu jadikan motivasi, bahwa menulis, adalah menyumbangkan ide-ide, pemikiran-pemikiran, untuk peradaban generasi selanjutnya. Itu sungguh mulia. Semoga saja, mulai saat ini saya bisa lebih konsisten untuk menulis.

Rzq - 26/11/2013
Minggu, 24 November 2013

Selamat Hari Guru

Selamat Hari Guru,
Kepadamu semua guruku,
Juga seluruh guru di jagat bumi ini,
Hari ini mungkin hanyalah sebuah hari yang sama dengan hari-hari lain,
Inilah kami,
Hanya beberapa kali kami ucap terimakasih padamu,
saat perpisahan kami di sekolah,
juga saat hari ini di setiap tahunnya.
Selamat Hari Guru.

Aku jadi ingat masa-masa itu,
Kadang dekat, kadang kumenjauh.
Nilaiku baik, aku dekat.
Nilaiku jelek, PR-ku tak kukerjakan, kumenjauh,
Namun aku , kau tak pernah sekalipun membenci,
Semua demi kebaikanku.

Aku jadi ingat, senyum tawa candamu, di ruang kelas yang kurindu,
Kesabaranmu dengan murid-muridmu yang kadang tak karuan,
Jangan berhenti untuk mencintai dan mendidik, guruku.
Terimakasih Guruku,
Semoga Jasa-jasamu terbalaskan dengan sesuatu yang lebih baik.
aamiin.



Menulis, Kebetulan, dan Keputusan

Sebenarnya ketiga kata tersebut mewakili tiga bab awal yang telah saya baca dari sebuah buku simpel, unik, renyah, santai, berjudul "Ultimate U 2" karya Rene Suhardono. Bagaimana tidak renyah banget, buku itu benar-benar membuat kita merasa, "ini buku gue banget!" bukan karena kita penulisnya, tapi si penulis berbaik hati menyediakan space kosong, satu hingga dua halaman di setiap penghujung bab untuk menjadi arena coret-coret si pemilik buku.

Lalu pada bagian bawah "arena" coret-coret tersebut tertulis, "think less, feel more" menjadikannya sangat keren menurut saya. Buku ini, si penulisnya mendorong kita untuk mengaktualisasi diri kita sebagai pembaca, dan mengaplikasikan apa yang telah kita baca di bab yang bersangkutan. Bebas sekehendak pembaca, bisa saja membuat resume, atau malah coret-coret menggambar di bagian kosong tersebut. Buku ini asik dibaca dari bab mana aja, lalu setiap bab, tak perlu buru-buru menyelesaikan dan membaca bab selanjutnya, justru penulis menyarankan agar kita meresapi dulu satu bab yang kita baca, mencoba melakukannya, sebelum melanjutkan membacanya. Saya pun demikian, dari sekian banyak bab yang ringkas, sepekan ini saya baru membaca tiga bab.

Saya tidak ingin membahas tiga bab tersebut sekaligus meski saya telah menuliskan tiga kata tersebut sebagai judul. Bab pertama, mengajak kita untuk rajin menulis, ah mungkin terlalu formal dan terkesan memaksa ya, baiklah kita ganti dengan, "tak sungkan untuk menulis".

Mengapa harus sungkan dan mengapa harus tak sungkan? Kebanyakan orang, termasuk saya, kadang ragu untuk menulis. Saya sendiri, sejak SMP memang hobi menulis, blogging, namun SMA mulai jatuh, matisuri. Lalu awal kuliah kembali menulis, lalu padam lagi, hingga sekarang saya perlahan mencoba menulis lagi. Rasa sungkan untuk menulis biasanya karena kita terbebani oleh muatan ilmu, agar apa yang kita tuliskan itu memiliki "dalil" atau landasan yang jelas dan tidak ngawur. Khawatir salah menulis. Hal itu tidak salah, memang, kita harus menulis harus berdasarkan ilmu. Apalagi saya seorang Muslim, memahami bahwa, apapun yang kita lakukan, tuliskan, ucpakan, harus memiliki landasan keilmuwan. Baik berupa dalil-dalil syar'i maupun dalil keilmuwan umum, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Kita sampaikan dalam tulisan maupun tidak.

Misalkan saya ingin menulis panduan berwudhu, maka saya tidak boleh hanya menerangkan step by stepnya saja, namun harus disertai dalil berupa ayat maupun hadits, juga keterangan-keterangan penjelas dari ulama yang berkompeten dalam hal tersebut. Karena, dalam Islam, masalah ibadah adalah masalah yang harus ada landasan kuat, harus ada tuntunan aau contoh dari Rosulullah Shollallahu 'alaihi wassallam. Maka dalil yang saya cantumkan berfungsi sebagai pertanggung jawaban, bahwa masalah wudhu yang saya terangkan memang seperti itu, ada dalilnya, bukan suatu yang saya karang sendiri.


Senin, 11 November 2013

Berterimakasihlah Sekarang, Jangan Tunggu Sukses!

"Alhamdulillah, saya amat bersyukur pada Allah atas karuniaNya, selain itu, saya sangat berterimakasih pada semuanya, orang tua, guru, kerabat, dan semuanya, karena atas dukungan kalian saya bisa sukses seperti saat ini..."

Mungkin itu sering kita dengar, bro.
Di mimbar-mimbar penghargaan, mimbar seminar, dan lain sebagainya.

Okay, ada banyak orang yang telah kita jumpai, baik lawan maupun kawan.
Berterimakasihlah pada semua orang yang pernah kau jumpai selama hidup ini, sob. Baik itu yang baik padamu, ataupun yang menjegal atau bahkan menikammu dari belakang. Mereka semua turut andil dalam membentuk karaktermu, mereka dikirim Allah untuk ada dihidupmu, membentukmu. Begitupun kamu, ditakdirkan masuk ke hidup mereka semua menjadi peran yang sama, entah kawan atau lawan.

Kita semua saling mempengaruhi sikap mental diri kita satu sama lain. So, kenapa nunggu sukses dulu baru berterimakasih? Apalagi kalau sukses itu hanya kau ukur dari penghargaan dan materi, oh men.. come on..
itu pemikiran yang culun sekali. Kalau begitu, apa kamu akan berterimakasih setelah kamu kaya dan sebagainya?

Saat ini kamu masih hidup, kamu sudah duluan menjadi orang yang sukses ketika kamu mampu berterimakasih pada orang-orang yang telah dikirimkan Allah dalam hidupmu, untuk memperkokoh langkah-langkahmu.

Okay, ini pesan singkatku malam ini, sebagai catatan untukku sendiri, dan semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca.

Wassalamu'alaykum :)

Rabu, 06 November 2013

Hati, Kaki, dan Ember

image source:http://bazzcethol.com 

Pernahkah anda menyaksikan pedagang ember keliling seperti foto di atas?
Sepertinya sudah tidak asing, juga pedagang-pedagang keliling lainnya yang serupa. Ada jual kasur (matras), jual meja kecil, jual sapu, jual karpet bergulung-gulung, semuanya dilakukan dengan berjalan kaki.
Selasa, 08 Oktober 2013

AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SYAITHAN SAAT SAKRATUL MAUT


Dari Abul Yasar radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam selalu berdoa (dengan membaca),

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﺮَﺩِّﻱْ
ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﻬَﺮَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﺨَﺒَّﻄَﻨِﻲَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻓِﻲْ
ﺳَﺒِﻴْﻠِﻚَ ﻣُﺪْﺑِﺮﺍً ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻟَﺪِﻳْﻐﺎً


Allâhumma innî a’ûdzubika minal hadami wa a’ûdzubika minat taraddî wa a’ûdzubika minal
gharaqi wal haraqi wal harami wa a’ûdzubika an yatakhabbathaniyasy syaithânu ‘indal mauti
wa a’ûdzubika an amûta fî sabîlika mudbiran wa a’ûdzubika an amûta ladîghan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kehancuran, aku berlindung
kepada-Mu dari kebinasaan -karena jatuh dari tempat yang tinggi-, aku berlindung kepada-Mu
dari tenggelam, terbakar, dan ketuaan, aku berlindung kepada-Mu dari kerasukan syaithan
saat sakaratul maut, aku berlindung kepada-Mu (dari) ‘aku mati dalam keadaan lari dari jalan-
Mu’, serta aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan (binatang berbisa).”.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dan
Syaikh Muqbil]

Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS
Pin BB 4: 298BF677
Kamis, 03 Oktober 2013

Allah Maha Pemurah

Allah Maha Pemurah,
Maha Lembut, Maha Menutupi aib
Maha Penyayang, Maha Pengampun.

kalau dipikir-pikir, berapa banyak aibku, yang telah Allah tutupi, sehingga orang lain tidak tahu.
Kalau tahu.. mungkin tak ada yang mau bergaul denganku...

Dari sekian banyak dosaku, Allah masih memberiku limpahan rizqi, aneka ragam dan rupa.
Aku merasa dilema.
Prasangka baik, akan membawaku berpikir bahwa, itulah Maha Pemurahnya Allah, masih menyayangiku, memberiku rizqi dan usia, agar aku bisa berpikir, untuk lekas meninggalkan dosa-dosaku.

Namun, aku juga harus mengimbanginya dengan perasaan takut, dan juga rasa harap. Aku takut, jika semua kemurahan Allah itu, ternyata, karena saking jauhnya aku kepadaNya, bisa berarti apa-apa.
Namun aku harus tetap berharap, bahwa, aku diberi kesempatan untuk kembali bermuhasabah memperbaiki diri.

Malam ini, mungkin malam keseribu, atau kesekian ribu.
Kembali dekat, lalu jauh, lalu dekat,
berulang kali.

Allah yang Maha pengampun, tak akan bosan didatangi hambaNya yang ingin memohon ampun,
justru, manusialah yang akan bosan sendiri, entah bosan karena terus-terusan berbuat dosa, atau bosan bertaubat. hanya itu yang akan terjadi. Semoga, kita semua termasuk orang-orang yang bosan terus-terusan berbuat dosa mendurhakaiNya.

aamiin. :)

secarik catatanku,
di malam yang tenang ini. semoga bermanfaat.

source gambar : http://bilarindutinggalkata.files.wordpress.com/2012/12/hening.jpg

Secarik Nasihat Tengah Malam

Wahai Pemuda! Engkau harus selalu takut (khawf) dan jangan berangan-angan hingga engkau bertemu Tuhanmu ‘Azza wa Jalla dan kedua kaki hati serta struktur tubuhmu berdiri tegak di hadapan-Nya, lalu engkau dapatkan jaminan keamanan di tanganmu. Barulah setelah itu, engkau boleh merasa aman. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka engkau akan melihat kebaikan yang melimpah di sisi-Nya. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka engkau akan melihat kebaikan yang melimpah di sisi-Nya. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka tenanglah engkau. Sebab, jika Dia telah memberi sesuatu, Dia tidak akan meninjaunya ulang. Ketika Al-Haqq ‘Azza wa Jalla telah menjatuhkan pilihan pada seorang hamba, maka Dia akan mendekatkan hamba tersebut pada-Nya, sehingga manakala ia terserang ketakutan, maka Allah akan memberinya sesuatu yang bisa menghilangkan rasa takut tersebut dan menenangkan hati serta nuraninya, dan itu hanya antara hamba tersebut dan Allah.

(Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 18 Dzulqaidah 545 H, dalam sebuah kitab berjudul “Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faydl ar-Rahmani”.)
Selasa, 18 Juni 2013

TUGAS KEWIRAAN SEMESTER 3 : Menunjukkan Perilaku Taat Terhadap Norma-Norma yang Berlaku dalam Kehidupan Bermasyarakat


Oleh : M. Rizqon F.
Arsitektur UNS




Menunjukkan Perilaku Taat Terhadap Norma-Norma yang Berlaku dalam Kehidupan Bermasyarakat



Di era globalisasi kini, manusia cenderung lebih menyukai kebebasan. Termasuk pula di dalamnya adalah masyarakat Indonesia. Kebebasan yang menjadi ciri dari budaya barat, mentah-mentah diterima dan diikuti tanpa ilmu yang memadai. Paraidgmanya telah terbentuk bahwa segala macam gaya hidup, dan aktivitas yang berkiblat pada barat, maka itu adalah suatu kebenaran dan kemajuan yang harus diikuti.

Dalam menyikapi perkembangan tersebut, maka diperlukan sebuah kebijaksanaan dari maing-masing individu, di mana dia harus bisa memberi filter pada dirinya sendiri. Mampu menyerap nilai-nilai positif, jika ada, dari sebuah globalisasi tersebut, serta meninggalkan nilai-nilai yang negatif yang ada padanya.

 Manusia dilahirkan dan hidup tidak terpisahkan satu sama lain, melainkan berkelompok. Hidup berkelompok ini merupakan kodrat manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Selain itu juga untuk mempertahankan hidupnya, baik terhadap bahaya dari dalam maupun yang datang dari luar. Setiap manusia akan terdorong melakukan berbagai usaha untuk menghindari atau melawan dan mengatasi bahaya - bahaya itu.

Senin, 17 Juni 2013

Semua butuh Bicara

Kini aku sedang menyibak kabut-kabut,
Sedikit sesak menempel di dada
di antara suatu kejelasan
hitam dan putih

sedihku tak tergapai mata senja
hanya Tuhan yang tahu
sementara aku tetap meraba-raba
segala kemungkinannya

Ketika laki laki berkata
merayu rayu berbau romantis
di saat itu aku sedang menepis

seringkali berkata bukan bermakna romantis,
namun hanya sebagai perantara,
pengurai gumpal gumpal kebingungan
lalu kita semua kembali tersadar,

tercela atau mulia,
semua butuh bicara.

Sabtu, 01 Juni 2013

Gundah Jiwa

Untuk urusan ini aku jarang memenangkan pertempuran, cenderung draw, seri, terhadap diriku sendiri.
Kadang aku jadi bingung, sebegitu subjektifnya kah aku? ataukah aku sendiri yang kurang percaya diri, bahwa diriku sebenarnya memang telah memahaminya, namun masih malu-malu terhadap kritik dan pandangan orang lain?

Ataukah sikapku mulai antisosial ? Tidak, bahkan dalam hatiku begitu merindui berkumpul bersama saudara-saudara seperjuanganku, namun aku belum bisa meluangkan waktu dengan kesibukanku saat ini. Ataukah, aku memang telah menjadi antisosial karena aku merasa ragu dan kecewa terhadap diriku sendiri?

Kemenangan itu...

Petarung Sejati tak akan pernah mengingkari janjinya. 
(Thomas - Dalam Sekuel terkeren : Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk, Tere Liye)

Aku menang bukan karena mengalahkanmu, namun karena aku memenangi pertarungan-pertarungan dalam diriku sendiri, melampaui batas terakhir dari kemenangan-kemenangan yang pernah kuukir sebelumnya. (Rizqon)

(Lalu mengusap hidungnya dengan jempol kanan ala Bruce Lee) :D
Rabu, 29 Mei 2013

Mengais kembali jalan yang hampir hilang : Arsitektur

Semua sudah ditakdirkan, saya memasuki jurusan ini, dengan jiwa yang setengah kecewa dan menerima. Sampai akhirnya, menjelang tahun ketiga, atau menjelang semester 5, baru saya sadari kembali bahwa saya harus bangkit. Bangkit, bahwa inilah jalan yang diberikan Allah.

saya boleh saja lebih lihai dalam hobi daripada amanah ini. Melukis, fotografi, wirausaha, dan sebagainya. Namun passion arsitektur, mau tidak mau, harus saya tumbuhkan. Entah terlambat atau belum, tapi ini masih setengah perjalanan, atau sekian persekian jalan.

Harapan itu masih ada, ya, karena kita, saya, tak boleh putus asa dari rahmat Allah. Saya boleh tetap bekerja part time mencari rizqi untuk penghidupan, namun tugas utama saya di bidang ini, tak boleh ditelantarkan.
Mari bangkit! Berarsitektur untuk kemanfaatan yang lebih besar :)

Rabu, 22 Mei 2013

potret keluarga yang manakah anda?

potret2 keluarga :

1. potret keluarga kuburan
2. potret keluarga pasar
3. potret keluarga arena silat
4. potret keluarga rumah sakit
5. potret keluarga sekolah
6. potret keluarga masjid

(Umar Hidayat, penulis buku) 

apakah anda penasaran dengan penjabaran/definisinya ? :)

Minggu, 05 Mei 2013

Hembusan Padang

lukisanku 4 Mei 2013, Hembusan padang

kau selalu menarik ulur,
aku lalu menyingkirkanmu,
bertekad menghilangkanmu.

lalu ada lagi kau yang lain,
baru muncul,
menggelayuti,
hilir mudik menyesakkan.

Karena pada dasarnya,
angin jatuhnya ke lembah.
Air mengalirnya ke muara.

5 Mei 2013.
Senin, 29 April 2013

HARI BUMI 22 APRIL : Sebuah Kontemplasi Kerusakan Bumi


HARI BUMI 2013 : Kontemplasi terhadap Kerusakan Bumi

Oleh Mohammad Rizqon Febriansyah
Setiap tanggal 22 April, hampir seluruh negara di dunis memperingati Hari Bumi. Hari Bumi diperingati untuk membangun kesadaran dan rasa penghargaan terhadap bumi yang selama ini kita tinggali. Peringatan ini dicanagkan oleh Seenator Amerika Serikat bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970, ia merupakan seorang pengajar lingkungan hidup. Pada tanggal ini bertepatan dengan musim semi di bumi bagian utara dan musim gugur di bagian selatan.

Berbicara mengenai bumi, kita sebagai Umat Islam, harusnya lebih memberi  penghargaan terhadap bumi yang kita tinggali ini. Dalam Al-Qur’an, kata “ardh” yang berarti bumi disebutkan sebanyak 461 kali. Hal ini menunjukkan betapa besarnya Allah memberi perhatian pada bumi yang kita tinggali ini.

(Mengapa kamu ragu-ragukan kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang telah mati?) Bukankah Kami telah menjadikan bumi (terbentang luas) sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)

Ayat di atas adalah salah satu contoh bagaimana Allah berfirman mengenai bumi. Demikianlah kekuasaan Allah, menciptakan bumi sebagai hamparan untuk kita tinggali. Maka sebagai orang beriman, kita harus benar-benar mensyukurinya. Namun, sekitar satu abad belakangan ini, bumi kian menunjukkan kerusakan yang terjadi padapermukaannya. Mulai dari adanya polusi tanah, air, udara, yang semuanya itu akhirnya mengakibatkan dampak yang lebih luas lagi yaitu peningkatan suhu yang selama  ini kita kenal dengan Global Warming.
Kita bisa mengetahui bahwa awal mula kerusakan ini adalah adanya revolusi industri besar-besaran di Eropa yang membuat banyak sekali perubahan dalam pabrik yang kian banyak menggunakan tenaga mesin yang mengeluarkan asap, kemudian revolusi itu menyebar kemana-mana termasuk Indonesia. Selain itu, kita juga mengetahui bahwa adanya perang besar yang terjadi pada abad 20, yaitu perang dunia 1 dan 2, telah merenggut banyak nyawa, menumbangkan pohon-pohonan, pengerukan sumber daya besar-besaran, akhirnya menyumbang besar dalam perusakan bumi. Sehingga, ayat Allah yang agung kini sedang terjadi :

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Akhirnya, selain aneka polusi dan krisis sumber energi, kita sering dilanda bencana alam. Bencana alam ini, rupanya bisa pula karena bumi ini, penduduknya kian durhaka pada Allah ta’ala. Manusia kebanyakan berbuat maksiat. Seperti yang tersebut dalam ayat Allah di atas.

Jauh sebelum
Gaylord Nelson mencanangkan peringatan hari Bumi pada 1970 untuk menyadarkan manusia agar lebih mengapresiasi bumi mereka sendiri dan tidak merusaknya, Allah melalui Al-Qur’an telah terlebih dahulu mengkampanyekan hal ini. Mari kita simak ayatnya :

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QSS Al-A’raf : 56)

Lalu, bagaimanakah kita menyikapi ayat ini sekaligus menyikapi Peringatan Hari Bumi dan juga realita bahwa bumi hari ini kian menuju kehancurannya? Apa aksi kita sebagai Muslim untuk membantu menyelamatkan bumi dan penduduknya dari kerusakan yang lebih besar lagi, atau setidaknya mengulur waktunya? Inilah sebuah pertanyaan yang akan terjawab dengan sangat luar biasa oleh keagungan dan kesempurnaan agama ini.

Al-Islam telah memberi solusi yang begitu cemerlang. Mari kita simak sabda nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassallam berikut :

1. “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.”
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro'ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

2. “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Imam Muslim Hadits no.1552)

3. “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.”
(HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
4. “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.”
(HR. Imam Ahmad)

MasyaaLLaah. demikianlah solusi yang ditawarkan Islam. Ia tak sekedar mengandung makna akan adanya manfaat dari sisi duniawi semata, namun ia akan pula sampai ke akhirat, yaitu adanya pahala dalam kebaikan tersebut.

Pesan tersebut disabdakan oleh Rosulullah mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassallam, dimana perkataan beliau tidakah datang dari hawa nafsunya, namun melalui bimbingan Allah ta’ala. Pesan tersebut telah disabdakan semenjak 14an abad yang lalu, jauh sebelum organisasi-organisasi semacam GreenPeace berdiri untuk mengajak mencintai lingkungan. Dari hal terkecil dan sederhana saja, Islam telah menganjurkan Umatnya untuk menanam pohon dengan balasan pahala yang sedemikian rupa, bahkan dalam hadits yang memerintahkan tetap menanam meski kita akan tahu bahwa esok harinya akan terjadi kiamat, selain mengandung makna penyelamatan bumi sampai dipenghujungnya dengan cara menanam pohon, hadits tersebut pun menyiratkan makna bahwa tidak ada kata terlambat untuk berproses menjadi lebih baik, termasuk urusan memperbaiki lingkungan.

Mengapa harus pohon? Iya, karena awal petaka yang terjadi di bumi ini, secara langsung maupun tidak bermula dari berlebihannya jumlah pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Secara langsung, berkurangnya pohon menyebabkan luas paru-paru dunia menyempit, artinya, polusi udara yang terjadi kian sulit difilter dan dijernihkan oleh pepohonan ini melalui dedaunannya yang hijau. Secara tak langsung, dengan berkurangnya populasi pohon, banyak sekali tanah-tanah yang menjadi semakin kering dan gersang, lahan penyerapan air berhenti bekerja, akhirnya terjadi kerusakan seperti tanah longsor dan banjir.

Nah, sebagai penutup, yuk kita sebagai Muslim harus lebih cinta terhadap lingkungan di atas bumi ini daripada ummat yang lain. Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Bijak-bijaklah menggunakan energi, membuang dan memilah sampah pada tempatnya, dan jika ingin meraih pahala yang lebih, yuk kita menanam pohon, untuk menghidupkan sunnah Rosulullah, juga untuk menyelamatkan bumi kita yang kian gersang dan rusak ini. (rizqon)

Sabtu, 27 April 2013

Pesan dari ayah... (1)

Bismillahirrohmaanirrohiim

Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh...
Anakku, malam ini ayah masih belum menemukan nama yang pas buatmu, nama yang akan menjadi doa terindah dari ayah untukmu.

Malam ini pun ayah tidak bisa menghitung, akankah kau lahir di dunia ini, berapa lama lagi.

Namun, ayah ingin mempersiapkan semuanya sedari awal :)

Mulai mengumpulkan serpih-serpihan ilmu dan hikmah yang bisa ayah tangkap.

Karena, jika pesan-pesan ini tidak segera ayah tuangkan, ia bisa mudah menguap hilang.
Ini adalah untai nasihat, entah bisa ringan, bisa berat.
Ayahmu ini bukanlah seorang yang ilmunya banyak.


Anakku, sesungguhnya sebelum membangun apapun dari sebuah rumah, yang pertama kali harus dibuat adalah pondasinya, kita kokohkan, kuatkan dengan bahan-bahan terbaik agar kelak bangunan bisa berdiri kokoh menyelamatkan penghuninya.

Maka pesan pertama ayah saat ini padamu adalah, sebagaimana yang dipesankan oleh sosok yang mulia, yang namanya disebutkan dalam Al-Qur'an yang mulia, Ialah Luqman Al-Hakim, yang berpesan pada anaknya :
Artinya : "Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".   (QS.Luqman [31]: 13)
Anakku, lihatlah, bahwa kesyirikan, menyekutukan Allah adalah sebesar-besarnya kedzaliman. Maka pegang teguhlah kalimat tauhid Laa ilaaha illaLLAAH... jangan sedikitpun kau sekutukan Allah dengan apapun.

Sesungguhnya kenikmatan terbesar bagi seorang hamba ialah berada dalam keadaan Iman dan Islam.
Kedua hal ini laksana sebuah kunci surga. Yang apabila kau jaga dengan baik, ia akan bisa digunakan membuka surga pada waktunya. Namun jika ia kau sia-siakan, berkaratlah ia, dan celakalah surga itu tak bisa terbuka untukmu.

Sekian pesan pertama ini, semoga kau kelak membacanya. Setidaknya, Allah telah melihat, dan semoga ada orang-orang lain yang membacanya dan memegang teguh, mengamalkan dan mengajarkannya, dan menjadikan suatu ilmu yang jariyah bagi ayah yang begitu banyak dosa sehingga membutuhkan ridho dan ampunan Allah.

Solo 27 April 2013


Selasa, 23 April 2013

Sejarah mencatat, dan aku mencatat sejarah


Di laptopku pukul 00.02 dini hari. Jari jemari gatal untuk berlompatan ria di atas tuts-tuts berukir alfabet. Kalau biasanya sejarah "mencatat"kan sesuatu, kali ini aku hanya ingin bergantian mencatat sejarah. Tak perlu pusing, tak banyak yang ingin aku catatkan.

Jika sejarah mencatat hal-hal besar, aku ingin mencatat sejarah-sejarah kecil yang ada dalam hidupku. Sebagian keci. Kini aku semester 4 di perguruan tinggi negeri yang berada di kota Solo. Inilah pengalamanku, sudah hampir sebulan ini, aku bekerja partime di dua bidang berbeda. Sebenarnya agak lucu menyebutnya sebagai sebuah bidang yang biasanya menjurus pada suatu keahlian khusus.

Usai sholat maghrib, aku bergegas ke sebuah counter pulsa kecil milik seorang kakak tingkatku di kampus. Tentu bukan untuk membeli pulsa, tapi akulah yang menjaga counter tersebut dan melayani para pembeli pulsa hingga pukul 21.00 malam. Dari menjaga counter, banyak sekali kisah-kisah menarik  yang aku temukan di masyarakat.

Namun aku tak ingin berpanjang lebar bercerita soal itu, lain waktu saja jika aku ingat, kurang lebih itu akan membawa pada tema bersyukur, keluguan, perbedaan sudut pandang antara mahasiswa dengan masyarakat pada umumnya, dan sebagainya.


Lalu kerja partime-ku yang satunya adalah, mengantarkan laundry dari kios ke sebuah rumah cuci dan sebaliknya. Tidak terlalu banyak memakan waktu, hanya sedikit lebih bertenaga. Motor trailku yang terkesan "tampan dan gagah" (ini subjektif), harus rela memikul bronjong atau bakul di jok belakangnya, untuk memuat laundry bersih maupun pakaian kotor. Ah ya, akhirnya aku merasakan bermotor dengan beban seperti itu seperti abang-abang tukang bakso. Usiaku 20 tahun, dan itulah sejarah kecil yang berhasil kucatat. Orang tuaku tak tahu soal itu. Jika tahu, pasti aku sudah berhenti (diminta berhenti) hhe...

Biarkan ini menjadi sarana latihanku untuk lebih menghargai rizqi berupa uang (rizqi tak selalu identik dengan uang). Aku jadi mengerti bagaimana kerasnya orang tua bekerja, orang-orang bekerja, terik, panas, hujan, dan dingin. Dari sini pula aku akan belajar memahami arti tanggung jawab, latihan untuk menafkahi kelak jika aku telah menikah :D

Tentu saja kelak, anak-anakku pun akan tahu, aku tak ingin bercerita sok gagah, namun inilah hidup. Jangan pernah sungkan dan malu bekerja di bidang apapun, serendah apapun dimata orang, karena fokus kita bekerja adalah mendapatkan ridho dari Allah :) Derajat kita sungguh tak ditentukan dari pekerjaan dan materi. Namun seberapa taqwakah kita padaNya?

Solo, 24 April 2013


Selasa, 09 April 2013

Kualitas dan Fungsi Baja

Assalamu'alaykum, kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan tadi siang, 9 April 2013. Selama ini saya tidak terpikirkan sama sekali untuk membagikan ilmu yang sudah saya pelajari di perkuliahan jurusan saya, yaitu jurusan Arsitektur Universitas Sebelas Maret, Surakarta. ^^

Maklum, selama ini, saya banyak sekali beraktivitas yang diluar bidang pendidikan saya ini. Seperti melukis, berkebun, fotografi, kegiatan organisasi, mendaki gunung, dan lain sebagainya. Oke, selamat belajar yah, semoga bermanfaat apa yang saya bagikan di sini ^^

Kualitas dan Fungsi Baja

  • Berdasarkan Komposisi
    • Baja Karbon
    • Baja Paduan Rendah
    • Baja Tahan Karat
  • Berdasarkan Proses Pembuatan
    • Tanur Baja Terbuka
    • Dapur Listrik
    • Proses Oksidasi Dasar
  • Berdasarkan Bentuk Produk
    • Pelat Batangan
    • Tabung
    • Lembaran
    • Pita
    • Bentuk Struktural
  • Berdasarkan Struktur Mikro
    • Feritik
    • Perlitik
    • Martensitik
    • Austenik
  • Berdasarkan Kegunaan dalam Konstruksi
    • Baja Struktural
    • Baja Non Struktural

Selain pembagian di atas, ada beberapa jenis Baja : 
  • Baja Tahan Garam (Acid Resisting Steel)
  • Baja Tahan Panas (Heat Resisting Steel)
  • Baja Tanpa Sisik (Non Scaling Steel)
  • Electric Steel
  • Magnetic Steel
  • Baja Tahan Pakai (Wear Resisting Steel)
  • Baja Tahan Karat/Korosi
Minggu, 07 April 2013

ISLAM MENJAGA AKAL MANUSIA


Agama Islam, dengan segala aturan yang ada di dalamnya, baik hal besar sampai yang detail kecil kehidupan kita, hadir untuk menjaga 5 hal :

1. akidah, 2. akal, 3. darah, 4. kehormatan dan nasab(keturunan), 5. harta

saat ini saya tergelitik dengan hal kedua, yaitu akal.

Dalam hal ini, contoh kecil bagaimana Islam menjaga akal manusia adalah adanya larangan meminum Khamr (sgala jenis minuman yang memabukkan, menekan atau mempengaruhi kerja otak dan syaraf, sehingga kesadarannya terganggu), dengan menghindari khamr, akal lebih sehat dan terjaga, kesadarannya baik. Itu contoh kecilnya.

Selain itu, orang-orang yang berusaha memperbaiki akhlaknya, secara otomatis, kecerdasan akalnya semakin meningkat. Orang-orang yang baik akhlaknya, ketika dia adalah seorang yang rendah dari sisi akademisnya, ia akan secara otomatis memiliki kecenderungan berpikir panjang dalam bersikap kepada orang lain. Ia meninggikan sendiri kualitas attitude-nya.

Kemudian, orang-orang yang mempelajari al-Qur'an dengan ikhlas, sering membaca tak sekedar terjemah, namun juga tafsirnya, tersentuh ayat-ayat Allah, ia akan semakin cerdas mengelola banyak hal. Menyusun pola pikirnya, memperbaiki cara bicara, menjaga kesehatannya, pokoknya akalnya semakin bekerja lebih baik. Karena semua itu adalah ilmu dari Allah.
Itu sekedar prolog.

Benar saja, rata-rata orang yang jauh kehidupannya dari ajaran agama, entah pengaruh lingkungan, tak pernah diajarkan orang tua, dsb, memiliki kecenderungan nalar atau akal yang aneh. Saya menyaksikan kelompok-kelompok gank motor yang liar, suka mabuk, pergaulan bebas, itu kebanyakan dari kalangan yang kurang dibekali pemahaman agama yang baik.

Lihat saja, attitudenya jadi jelek, saat ugal-ugalan tanpa helm, bukankah itu tandanya akalnya sedang "somplak" ga berpikir logis dalam menjaga keamanan dirinya?

Saat konvoi jalanan dengan pamer suara knalpot di saat orang-orang sedang sholat, waktu maghrib misalkan, bukankah itu pertanda hati dan akalnya sedang mati, atau rusak tercabik? mereka tak bisa sejenak berpikir, "orang-orang sedang ibadah, sebaiknya jangan ribut dengan knalpotku" atau setidaknya berpikir "ini jalanan umum, kalau kita konvoi rapat, ribut, ugal-ugalan, bukankah bisa membahayakan orang lain?"

Contoh lainnya, lihatlah orang-orang liberal. Yang mengaku rasional, menuhankan akalnya. Mereka berpikir mereka paling pintar, bahkan aturan Allah ditentang, merasa peru direvisi. Merasa lebih pintar dari Allah yang menciptakan alam raya seisinya?

Ada pula orang liberal pinggiran (dia cuma anak sekolahan, atau mahasiswa, bukan tokoh liberal) sama sekali tidak pernah mempelajari Islam, namun bisa merasa merivisi dan mengkritisi aturan Islam, padahal agamanya sendiri adalah Islam. Bukankah ini tidak logis? Katanya mahasiswa yang akademis, ilmiah, namun kenyataannya cara pandang terhadap aturan Islam sangat tidak ilmiah, main tuduh dan sangat subjektif, tak mau memakai akalnya. Padahal Islam begitu memuliakan akal yang sejati. Bukan akal-akalan versi kaum liberal.

Kesimpulannya, orang yang jauh dari Agama berarti menjauhkan diri dari sebuah paket penjaga akal. Akhirnya, akalnya rusak. Bahkan mungkin orang-orang liberal yang terlihat cerdas karena sekedar pandai bersilat lidah, akan terlihat sangat sangat bodoh di hadapan seorang anak SD yang dekat dan terjaga lingkungannya dengan Islam.
:)

Allahu a'lam.
Rizqon.

Solo - 7 April 2013
Senin, 11 Maret 2013

Secangkir Sore


Rintik bersuara menitik, perlahan menyudahi derasnya.
Sementara matahari sudah terlanjur tenggelam sebelum waktunya. 
Di balik awan-awan bergumpal berwarna kelabu.
Sore ini adalah sore yang dingin.
Sore kesekian kali di musim hujan ini.

Aku masihlah aku yang selalu duduk di depan mejaku, 
untuk menikmati secangkir sore.
Melamunkan senja yang selalu kelabu.
Yang memerahnya tak setiap waktu, adalah keberuntunganmu bisa memandangnya.
Di musin ini, musim hujan.

Sementara itu, untuk kesekian kalinya,
ada sebuah jalan yang selalu terlintasi dengan sengaja atau tidak
sebuah jalan di alam pikiran
membawaku loncat ke sana dan ke mari.
Memikirkan segala kemungkinan,
mempertarungkan praduga,
baik dan buruk.
Mengadu mereka dalam dua sangkar yang memiliki saluran semacam pipa penghubung.
Hati dan otak. Keduanya memiliki pipa penghubung.
Praduga prasangka itu hilir mudik bertarung melewati pipa itu.

Sore ini hujan baru berakhir.
Namun kuberitahukan lagi,
bahwa matahari sudah terlanjur tenggalam sebelum waktunya.
tak akan ada pelangi usai hujan sore ini.
juga sore-sore kebanyakan di musim ini.

Aku, dimejaku, 
dan secangkir sore.

M. Rizqon F.
Solo, 10 Maret 2013 

Jumat, 08 Maret 2013

Purnama


"Purnama, 25x30, rizqon art"
Di antara tiga puluh tiga purnama,
aku hanya memikirkan kala itu,
kala purnama yang itu hadir,
purnama yang entah akan hadir setelah berapa purnama lagi
entah itu purnama ke berapa nanti.


Saat telaga harus memantulkannya,
tak mungkin kukeruhkan airnya, 
ia akan senantiasa terus memantulkan purnama.
Membuat bulu kudukku merinding melihatnya,
menghitung-hitungnya.


Pernahkah kau bayangkan,ketika tanpa diminta
semua keping puzzle menyusun diri mereka sendiri
memperlihatkan segala sisi rupanya keseluruhan
bukankah itu sungguh menakutkan?


Di antara tiga puluh tiga purnama
di bulan-bulan sabit dan paruh penyambungnya,
semua selalu sama.
Sungguh menakutkan,
ketika purnama datang,
ia bisa bicara,
"Aku purnama ke tiga puluh empat"


Ketika gelar pengecut disemat tanpa acara
aku akan tetap seperti itu
tak berani bertanya
soal ikan-ikan pengitar pusaran
soal perahu-perahu yang membayangi
juga soal arus-arus dipersimpangan


aku mendaki gunung
melihat lebih dekat,
menantang, 
sempurna terpantul danau di atas sana,
mencoba berani,
menatap lekat
Purnama tiga puluh tiga


(M Rizqon F - 8 Maret 2013)