Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Oktober 2013
AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SYAITHAN SAAT SAKRATUL MAUT
Dari Abul Yasar radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam selalu berdoa (dengan membaca),
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﺮَﺩِّﻱْ
ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﻬَﺮَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﺨَﺒَّﻄَﻨِﻲَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻓِﻲْ
ﺳَﺒِﻴْﻠِﻚَ ﻣُﺪْﺑِﺮﺍً ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻟَﺪِﻳْﻐﺎً
Allâhumma innî a’ûdzubika minal hadami wa a’ûdzubika minat taraddî wa a’ûdzubika minal
gharaqi wal haraqi wal harami wa a’ûdzubika an yatakhabbathaniyasy syaithânu ‘indal mauti
wa a’ûdzubika an amûta fî sabîlika mudbiran wa a’ûdzubika an amûta ladîghan.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kehancuran, aku berlindung
kepada-Mu dari kebinasaan -karena jatuh dari tempat yang tinggi-, aku berlindung kepada-Mu
dari tenggelam, terbakar, dan ketuaan, aku berlindung kepada-Mu dari kerasukan syaithan
saat sakaratul maut, aku berlindung kepada-Mu (dari) ‘aku mati dalam keadaan lari dari jalan-
Mu’, serta aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan (binatang berbisa).”.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dan
Syaikh Muqbil]
Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS
Pin BB 4: 298BF677
Senin, 29 April 2013
HARI BUMI 22 APRIL : Sebuah Kontemplasi Kerusakan Bumi
HARI BUMI 2013 : Kontemplasi terhadap Kerusakan Bumi
Oleh Mohammad Rizqon Febriansyah
Oleh Mohammad Rizqon Febriansyah
Berbicara mengenai bumi, kita sebagai Umat Islam, harusnya lebih memberi penghargaan terhadap bumi yang kita tinggali ini. Dalam Al-Qur’an, kata “ardh” yang berarti bumi disebutkan sebanyak 461 kali. Hal ini menunjukkan betapa besarnya Allah memberi perhatian pada bumi yang kita tinggali ini.
“(Mengapa kamu ragu-ragukan kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang telah mati?) Bukankah Kami telah menjadikan bumi (terbentang luas) sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)
Ayat di atas adalah salah satu contoh bagaimana Allah
berfirman mengenai bumi. Demikianlah kekuasaan Allah, menciptakan bumi sebagai
hamparan untuk kita tinggali. Maka sebagai orang beriman, kita harus
benar-benar mensyukurinya. Namun, sekitar satu abad belakangan ini, bumi kian
menunjukkan kerusakan yang terjadi padapermukaannya. Mulai dari adanya polusi
tanah, air, udara, yang semuanya itu akhirnya mengakibatkan dampak yang lebih
luas lagi yaitu peningkatan suhu yang selama
ini kita kenal dengan Global Warming.
Kita bisa mengetahui bahwa awal mula kerusakan ini adalah
adanya revolusi industri besar-besaran di Eropa yang membuat banyak sekali
perubahan dalam pabrik yang kian banyak menggunakan tenaga mesin yang
mengeluarkan asap, kemudian revolusi itu menyebar kemana-mana termasuk
Indonesia. Selain itu, kita juga mengetahui bahwa adanya perang besar yang
terjadi pada abad 20, yaitu perang dunia 1 dan 2, telah merenggut banyak nyawa,
menumbangkan pohon-pohonan, pengerukan sumber daya besar-besaran, akhirnya
menyumbang besar dalam perusakan bumi. Sehingga, ayat Allah yang agung kini
sedang terjadi :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).
Akhirnya,
selain aneka polusi dan krisis sumber energi, kita sering dilanda bencana alam.
Bencana alam ini, rupanya bisa pula karena bumi ini, penduduknya kian durhaka
pada Allah ta’ala. Manusia kebanyakan berbuat maksiat. Seperti yang tersebut
dalam ayat Allah di atas.
Jauh sebelum Gaylord Nelson mencanangkan peringatan hari Bumi pada 1970 untuk menyadarkan manusia agar lebih mengapresiasi bumi mereka sendiri dan tidak merusaknya, Allah melalui Al-Qur’an telah terlebih dahulu mengkampanyekan hal ini. Mari kita simak ayatnya :
Jauh sebelum Gaylord Nelson mencanangkan peringatan hari Bumi pada 1970 untuk menyadarkan manusia agar lebih mengapresiasi bumi mereka sendiri dan tidak merusaknya, Allah melalui Al-Qur’an telah terlebih dahulu mengkampanyekan hal ini. Mari kita simak ayatnya :
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QSS Al-A’raf : 56)
Lalu, bagaimanakah kita menyikapi ayat ini sekaligus menyikapi Peringatan Hari Bumi dan juga realita bahwa bumi hari ini kian menuju kehancurannya? Apa aksi kita sebagai Muslim untuk membantu menyelamatkan bumi dan penduduknya dari kerusakan yang lebih besar lagi, atau setidaknya mengulur waktunya? Inilah sebuah pertanyaan yang akan terjawab dengan sangat luar biasa oleh keagungan dan kesempurnaan agama ini.
Al-Islam telah memberi solusi yang begitu cemerlang. Mari kita simak sabda nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassallam berikut :
1. “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.”
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro'ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]
2. “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Imam Muslim Hadits no.1552)
3. “Tidaklah seorang muslim menanam
tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan
tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.”
(HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
(HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
4. “Sekiranya hari kiamat hendak
terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma
maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia
menanamnya.”
(HR. Imam Ahmad)
MasyaaLLaah. demikianlah solusi yang ditawarkan Islam. Ia tak sekedar mengandung makna akan adanya manfaat dari sisi duniawi semata, namun ia akan pula sampai ke akhirat, yaitu adanya pahala dalam kebaikan tersebut.
Pesan tersebut disabdakan oleh Rosulullah mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassallam, dimana perkataan beliau tidakah datang dari hawa nafsunya, namun melalui bimbingan Allah ta’ala. Pesan tersebut telah disabdakan semenjak 14an abad yang lalu, jauh sebelum organisasi-organisasi semacam GreenPeace berdiri untuk mengajak mencintai lingkungan. Dari hal terkecil dan sederhana saja, Islam telah menganjurkan Umatnya untuk menanam pohon dengan balasan pahala yang sedemikian rupa, bahkan dalam hadits yang memerintahkan tetap menanam meski kita akan tahu bahwa esok harinya akan terjadi kiamat, selain mengandung makna penyelamatan bumi sampai dipenghujungnya dengan cara menanam pohon, hadits tersebut pun menyiratkan makna bahwa tidak ada kata terlambat untuk berproses menjadi lebih baik, termasuk urusan memperbaiki lingkungan.
Mengapa harus pohon? Iya, karena awal petaka yang terjadi di bumi ini, secara langsung maupun tidak bermula dari berlebihannya jumlah pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Secara langsung, berkurangnya pohon menyebabkan luas paru-paru dunia menyempit, artinya, polusi udara yang terjadi kian sulit difilter dan dijernihkan oleh pepohonan ini melalui dedaunannya yang hijau. Secara tak langsung, dengan berkurangnya populasi pohon, banyak sekali tanah-tanah yang menjadi semakin kering dan gersang, lahan penyerapan air berhenti bekerja, akhirnya terjadi kerusakan seperti tanah longsor dan banjir.
Nah, sebagai penutup, yuk kita sebagai Muslim harus lebih cinta terhadap lingkungan di atas bumi ini daripada ummat yang lain. Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Bijak-bijaklah menggunakan energi, membuang dan memilah sampah pada tempatnya, dan jika ingin meraih pahala yang lebih, yuk kita menanam pohon, untuk menghidupkan sunnah Rosulullah, juga untuk menyelamatkan bumi kita yang kian gersang dan rusak ini. (rizqon)
(HR. Imam Ahmad)
MasyaaLLaah. demikianlah solusi yang ditawarkan Islam. Ia tak sekedar mengandung makna akan adanya manfaat dari sisi duniawi semata, namun ia akan pula sampai ke akhirat, yaitu adanya pahala dalam kebaikan tersebut.
Pesan tersebut disabdakan oleh Rosulullah mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassallam, dimana perkataan beliau tidakah datang dari hawa nafsunya, namun melalui bimbingan Allah ta’ala. Pesan tersebut telah disabdakan semenjak 14an abad yang lalu, jauh sebelum organisasi-organisasi semacam GreenPeace berdiri untuk mengajak mencintai lingkungan. Dari hal terkecil dan sederhana saja, Islam telah menganjurkan Umatnya untuk menanam pohon dengan balasan pahala yang sedemikian rupa, bahkan dalam hadits yang memerintahkan tetap menanam meski kita akan tahu bahwa esok harinya akan terjadi kiamat, selain mengandung makna penyelamatan bumi sampai dipenghujungnya dengan cara menanam pohon, hadits tersebut pun menyiratkan makna bahwa tidak ada kata terlambat untuk berproses menjadi lebih baik, termasuk urusan memperbaiki lingkungan.
Mengapa harus pohon? Iya, karena awal petaka yang terjadi di bumi ini, secara langsung maupun tidak bermula dari berlebihannya jumlah pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Secara langsung, berkurangnya pohon menyebabkan luas paru-paru dunia menyempit, artinya, polusi udara yang terjadi kian sulit difilter dan dijernihkan oleh pepohonan ini melalui dedaunannya yang hijau. Secara tak langsung, dengan berkurangnya populasi pohon, banyak sekali tanah-tanah yang menjadi semakin kering dan gersang, lahan penyerapan air berhenti bekerja, akhirnya terjadi kerusakan seperti tanah longsor dan banjir.
Nah, sebagai penutup, yuk kita sebagai Muslim harus lebih cinta terhadap lingkungan di atas bumi ini daripada ummat yang lain. Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Bijak-bijaklah menggunakan energi, membuang dan memilah sampah pada tempatnya, dan jika ingin meraih pahala yang lebih, yuk kita menanam pohon, untuk menghidupkan sunnah Rosulullah, juga untuk menyelamatkan bumi kita yang kian gersang dan rusak ini. (rizqon)
Selasa, 09 April 2013
Kualitas dan Fungsi Baja
Assalamu'alaykum, kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan tadi siang, 9 April 2013. Selama ini saya tidak terpikirkan sama sekali untuk membagikan ilmu yang sudah saya pelajari di perkuliahan jurusan saya, yaitu jurusan Arsitektur Universitas Sebelas Maret, Surakarta. ^^
Maklum, selama ini, saya banyak sekali beraktivitas yang diluar bidang pendidikan saya ini. Seperti melukis, berkebun, fotografi, kegiatan organisasi, mendaki gunung, dan lain sebagainya. Oke, selamat belajar yah, semoga bermanfaat apa yang saya bagikan di sini ^^
Maklum, selama ini, saya banyak sekali beraktivitas yang diluar bidang pendidikan saya ini. Seperti melukis, berkebun, fotografi, kegiatan organisasi, mendaki gunung, dan lain sebagainya. Oke, selamat belajar yah, semoga bermanfaat apa yang saya bagikan di sini ^^
Kualitas dan Fungsi Baja
- Berdasarkan Komposisi
- Baja Karbon
- Baja Paduan Rendah
- Baja Tahan Karat
- Berdasarkan Proses Pembuatan
- Tanur Baja Terbuka
- Dapur Listrik
- Proses Oksidasi Dasar
- Berdasarkan Bentuk Produk
- Pelat Batangan
- Tabung
- Lembaran
- Pita
- Bentuk Struktural
- Berdasarkan Struktur Mikro
- Feritik
- Perlitik
- Martensitik
- Austenik
- Berdasarkan Kegunaan dalam Konstruksi
- Baja Struktural
- Baja Non Struktural
Selain pembagian di atas, ada beberapa jenis Baja :
- Baja Tahan Garam (Acid Resisting Steel)
- Baja Tahan Panas (Heat Resisting Steel)
- Baja Tanpa Sisik (Non Scaling Steel)
- Electric Steel
- Magnetic Steel
- Baja Tahan Pakai (Wear Resisting Steel)
- Baja Tahan Karat/Korosi
Author:
Unknown
Label:
aristektur,
arsitektural,
ilmu,
Material
