Kini aku sedang menyibak kabut-kabut,
Sedikit sesak menempel di dada
di antara suatu kejelasan
hitam dan putih
sedihku tak tergapai mata senja
hanya Tuhan yang tahu
sementara aku tetap meraba-raba
segala kemungkinannya
Ketika laki laki berkata
merayu rayu berbau romantis
di saat itu aku sedang menepis
seringkali berkata bukan bermakna romantis,
namun hanya sebagai perantara,
pengurai gumpal gumpal kebingungan
lalu kita semua kembali tersadar,
tercela atau mulia,
semua butuh bicara.
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Maret 2013
Secangkir Sore
Sementara matahari sudah terlanjur tenggelam sebelum waktunya.
Di balik awan-awan bergumpal berwarna kelabu.
Sore ini adalah sore yang dingin.
Sore kesekian kali di musim hujan ini.
Aku masihlah aku yang selalu duduk di depan mejaku,
untuk menikmati secangkir sore.
Melamunkan senja yang selalu kelabu.
Yang memerahnya tak setiap waktu, adalah keberuntunganmu bisa memandangnya.
Di musin ini, musim hujan.
Sementara itu, untuk kesekian kalinya,
ada sebuah jalan yang selalu terlintasi dengan sengaja atau tidak
sebuah jalan di alam pikiran
membawaku loncat ke sana dan ke mari.
Memikirkan segala kemungkinan,
mempertarungkan praduga,
baik dan buruk.
Mengadu mereka dalam dua sangkar yang memiliki saluran semacam pipa penghubung.
Hati dan otak. Keduanya memiliki pipa penghubung.
Praduga prasangka itu hilir mudik bertarung melewati pipa itu.
Sore ini hujan baru berakhir.
Namun kuberitahukan lagi,
bahwa matahari sudah terlanjur tenggalam sebelum waktunya.
tak akan ada pelangi usai hujan sore ini.
juga sore-sore kebanyakan di musim ini.
Aku, dimejaku,
dan secangkir sore.
M. Rizqon F.
Solo, 10 Maret 2013
Jumat, 08 Maret 2013
Purnama
aku hanya memikirkan kala itu,
kala purnama yang itu hadir,
purnama yang entah akan hadir setelah berapa purnama lagi
entah itu purnama ke berapa nanti.
Saat telaga harus memantulkannya,
tak mungkin kukeruhkan airnya,
ia akan senantiasa terus memantulkan purnama.
Membuat bulu kudukku merinding melihatnya,
menghitung-hitungnya.
Pernahkah kau bayangkan,ketika tanpa diminta
semua keping puzzle menyusun diri mereka sendiri
memperlihatkan segala sisi rupanya keseluruhan
bukankah itu sungguh menakutkan?
Di antara tiga puluh tiga purnama
di bulan-bulan sabit dan paruh penyambungnya,
semua selalu sama.
Sungguh menakutkan,
ketika purnama datang,
ia bisa bicara,
"Aku purnama ke tiga puluh empat"
Ketika gelar pengecut disemat tanpa acara
aku akan tetap seperti itu
tak berani bertanya
soal ikan-ikan pengitar pusaran
soal perahu-perahu yang membayangi
juga soal arus-arus dipersimpangan
aku mendaki gunung
melihat lebih dekat,
menantang,
sempurna terpantul danau di atas sana,
mencoba berani,
menatap lekat
Purnama tiga puluh tiga
(M Rizqon F - 8 Maret 2013)
Jumat, 01 Maret 2013
7 Alasan Mengapa Kita Harus Menebar Manfaat pada Sekitar
Karena kita tidak hidup untuk diri sendiri. Sungguh orang yang hidupnya hanya berorientasi pada kesenangan diri sendiri akan mengalami masa-masa bosan dan tertekan karena nafsunya tak pernah puas menginginkan banyak hal, sementara di sisi lain orang tersebut merindukan perhatian dan sapaan dari orang lain yang sulit dia dapat karena begitu mementingkan diri sendiri.
Jadi, mengapa kita perlu menebar manfaat?
1. Karena Allah telah banyak memberi nikmat kepada kita,
dalam al-Qur'an surah al-Kautsar ayat 1-2, Allah berfirman "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang sangat banyak. Maka dirikanlah sholat dan sembelihlah hewan kurban" Dalam firman tersebut Allah mengingatkan kita bahwa Allah telah memberikan kita nikmat yang begitu besar, dan sebagai balasannya manusia disuruh untuk melaksanakan perintah sholat dan menyembelih kurban. Imam Ibnu Taimiyah mengomentari ayat tersebut dengan berkata, "Allah mengumpulkan dua ibadah sekaligus, yaitu menunaikan sholat dan menyembelih hewan kurban. Inilah kombinasi ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh." menyembelih hewan kurban termasuk ibadah sosial, dimana dengan hewan terebut, kita memberi manfaat kepada sesama dengan dagingnya, kulitnya, dan sebagainya.
2. Bukti ketaatan pada Allah
Tujuan hidup kita sebagai manusia adalah beribadah kepada Allah dalam setiap keadaan.
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu" (Adz-Dzariyat : 56)
dan salah satu caranya adalah melakukan amal-amal sholih yang tentunya amal-amal tersebut kita orientasikan kepada Allah agar tercapai tujuan penciptaan kita.
3. Mengikuti jejak para nabi dan orang-orang sholih terhadulu
sudah jelas tentu, saling menebar manfaat bukanlah tradisi belakangan ini, namun ini merupakan tradisi nabi-nabi terdahulu dan orang-orang sholih. Para nabi menebar manfaat dengan mau berkorban harta dan nyawanya demi tersebarnya ajaran Tauhid demi keselamatan manusia, para sahabat nabi menebar manfaat dengan berbagai cara, ada yang menyumbangkan strategi perang seperti yang dilakukan Salman al-Farisi dalam perang khondaq, ada sahabat yang membebaskan budak yang teraniaya, ada sahabat yang membeli sumur untuk kemashlahatan ummat, para Ulama menebar manfaat dengan rela berkorban harta dan nyawa melintasi berbagai bangsa untuk mencari ilmu dan menebarkannya, dan lain sebagainya. Bahkan, sejatinya alam dan seluruh isinya diciptakan untuk memberi manfaat pada manusia, lebah memproduksi madu yang jumlahnya jauh melebihi yang ia butuhkan, begitu juga susu pada hewan-hewan ternak, itu karena mereka diberi naluri oleh Allah untuk memberi manfaat pada manusia, begitupun bermacam hewan atau makhluk Allah yang lain.
4. Bentuk kepedulian
Rosulullah pernah bersabda, "Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka (Kaum Muslimin)" H.R. Baihaqi
5. Cara memuliakan diri sendiri
Memberikan yang terbaik untuk saudara kita sebenarnya adalah cara memuliakan diri sendiri. Ketika hidup kita hanya dipenuhi rasa ingin memenuhi semua kebutuhan pribadi, maka kita dikatakan pribadi yang kerdil. Namun jika hidup kita diisi dengan berbagai amal kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, tak hanya mementingkan diri sendiri, maka kita disebut sebagai orang yang besar, dan tentu saja itu berarti kita memuliakan diri sendiri dengan memberi manfaat.
6. Karena kita makhluk sosial
Tak ada yang bisa memungkiri, bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita saling memerlukan satu sama lain. bukankah ketika mata kita kelilipan, kita butuh teman untuk meniup mata kita? Bukankah semua keperluan yang kita beli merupakan hasil jerih payah yang memproduksi atau menyediakannya seperti para petani yang menanam padi dan aneka sayur mayur, peternak yang memlihara ternak-ternak yang dagingnya akan kita konsumsi?
7. Karena kita berbeda-beda
Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan dengan aneka macam keadaannya. Ada yang menjadi kaya, miskin, ada yang menjadi pandai dan ada yang kurang berpendidikan, ada yang sehat dan ada yang hidup dalam penyakit, dan sebagainya. Bukan kah itu berarti agar kita saling menasihati, memberi, dan saling melengkapi?
Demikianlah tujuh alasan mengapa kita harus memberi manfaat kepada siapapun, kepada manusia, hewan, maupun alam yang sejatinya juga akan kembali untuk kemashlahatan manusia. Berkontribusilah pada kehidupan ini, sekecil apapun, dan apapun yang kita sanggupi, apapun potensi kita, gunakanlah itu sebagai sarana untuk berbagi manfaat. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya menyingkirkan paku-paku yang bertebaran di jalan. Yuk sahabat, kita saling memberi manfaat pada sesama.
tulisan tahun lalu, repost (Rzqn/averbrain.net) - See more at: http://www.ruangfachriza.com/2012/03/7-alasan-mengapa-kita-harus-menebar.html#sthash.n0P8wj5j.dpuf
Senin, 14 Januari 2013
Matahari Luntur
Saat mentari menerobos masuk ke celah jendela timur rumahku,
ia tak menari-nari
tak seperti menari-nari
saat lewat genting kaca di atas
dapur sebuah rumah lain di ujung sana
Lalu dalam diam gelisahku
kusaksikan mentari luntur
tersembur jingga menyeruak
Melumuri awan-awan putih
sedikit kelabu
Pertanda
mentari kan matikah
atau ia saking gembiranya
ingin berbagi warna
dan cahaya
pada awan-awan kelabu ?
ia tak menari-nari
tak seperti menari-nari
saat lewat genting kaca di atas
dapur sebuah rumah lain di ujung sana
Lalu dalam diam gelisahku
kusaksikan mentari luntur
tersembur jingga menyeruak
Melumuri awan-awan putih
sedikit kelabu
Pertanda
mentari kan matikah
atau ia saking gembiranya
ingin berbagi warna
dan cahaya
pada awan-awan kelabu ?
Minggu, 30 Desember 2012
Refleksi Akhir Tahun 2012
Bismillah.
Hari ini 31 Desember 2012. Meski bukan berarti saya merayakan tahun baru, namun sungguh saya kira tidak ada salahnya menjadikan akhir tahun, entah Masehi maupun Hijriah, sebagai satu "checkpoint" dalam hidup kita.
Sering kali saya, atau mungkin juga kita, selalu berencana, bersemangat membuat resolusi, bahwa di ujung tahun ini, kita akan menutup segalanya, segala yang baik ditutup dengan harapan akan lebih baik, yang buruk ditutup dengan rencana esok, tahun mendatang lebih baik.
Namun sering kali resolusi itu kandas, di tiga perempat tahun, setengahnya, seperempat tahunnya, atau malah di ujung bulan pertama tahun yang baru.
Kira-kira, sejak kita memiliki kesadaran yang utuh tentang hakikat usia, mungkin sekitar usia 14 atau 15 tahun kita sudah mulai menyadari makna waktu, dan usia.
Maka jika saat ini saya berusia 19 tahun, saya pernah memikirkan sebuah resolusi diri diujung tahun sebanyak empat atau lima kali. Lalu apakah resolusi itu berjalan mulus, terlaksana?
sayangnya.. saya harus kecewa, bahwa resolusi itu ternyata sering kali lenyap, luntur, hanya tinggal catatan-catatan yang memuatnya.
Hari ini 31 Desember 2012. Meski bukan berarti saya merayakan tahun baru, namun sungguh saya kira tidak ada salahnya menjadikan akhir tahun, entah Masehi maupun Hijriah, sebagai satu "checkpoint" dalam hidup kita.
Sering kali saya, atau mungkin juga kita, selalu berencana, bersemangat membuat resolusi, bahwa di ujung tahun ini, kita akan menutup segalanya, segala yang baik ditutup dengan harapan akan lebih baik, yang buruk ditutup dengan rencana esok, tahun mendatang lebih baik.
Namun sering kali resolusi itu kandas, di tiga perempat tahun, setengahnya, seperempat tahunnya, atau malah di ujung bulan pertama tahun yang baru.
Kira-kira, sejak kita memiliki kesadaran yang utuh tentang hakikat usia, mungkin sekitar usia 14 atau 15 tahun kita sudah mulai menyadari makna waktu, dan usia.
Maka jika saat ini saya berusia 19 tahun, saya pernah memikirkan sebuah resolusi diri diujung tahun sebanyak empat atau lima kali. Lalu apakah resolusi itu berjalan mulus, terlaksana?
sayangnya.. saya harus kecewa, bahwa resolusi itu ternyata sering kali lenyap, luntur, hanya tinggal catatan-catatan yang memuatnya.

