Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 November 2013

Sesuai Kapasitas (Bagian 2)

image source : http://estotevaagustar.files.wordpress.com/
Ada solusi ketiga, yang saya tawarkan, (bahasanya semacam.. seolah.. seperti.. saya seorang pakar hehe)
Jika dalam postingan yang lalu, bagian 1, saya menyebutkan dua solusi, yang pertama adalah, menuliskan hal-hal kecil, ringan namun bermanfaat, lalu yang kedua, adalah menggali ilmu sebanyak-banyaknya yang tentu juga dengan memahami seutuhnya, sebagai bekal untuk menuliskan suatu yang besar manfaatnya, namun berat juga pembahasannya, maka solusi ketiga yang saya tawarkan untuk memberi manfaat yang cukup besar adalah the Power of CoPas alias Copy-Paste.

Eits.. tidak selamanya lho copas itu berarti buruk, plagiat. Tentu saja boleh, asalkan tetap menjaga adab-adabnya. Apa itu? cantumkanlah sumbernya, darimana mendapatkannya. Jangan sampai, seakan blog kita, atau tulisan kita super intelek bin keren, eh ternyata oh ternyata, hasil plagiasi, alias copy paste tak bertanggung jawab, aslinya dari sumber X, tapi tanpa kita sadari seakan ngaku-ngaku itu karya tulis kita karena lupa atau sengaja tidak menuliskan sumbernya. Belum lagi kalau nanti penulis atau pemilik sumber aslinya jadi menuntut kita secara hukum, bisa berabe kan? nah lho. Ah.. urusan etika ilmiah untuk menghindari plagiasi, bisa kita pelajari lebih dalam di sumber-sumber lain yang bertebaran. Silahkan....

Lalu apa manfaatnya CoPas yang bertanggung jawab? Yang pertama, membantu kita untuk berbagi pengetahuan yang "berat" dan manfaatnya besar kepada orang lain, disaat kita merasa belum berkapasitas menuliskannya. Kedua, saat memilah artikel "berat" otomatis kita pun jadi ikut membaca, menjadi bijaksana untuk memfilter, apakah layak artikel tersebut untuk dibaca orang lain. Misalkan kita sudah memahami mengenai tata cara sholat yang benar sesuai tuntunan rosulullah, namun kita sangat tidak berkapasitas menuliskannya sendiri, maka bisa saja kita tinggal CoPas dari situs-situs Islami terpercaya, membantu menyebarkan, menjadikannya bernilai dakwah pula. Tapi ingat ya, cantumkan sumbernya ^^
Allahu a'lam






Sesuai Kapasitas

image source : RNfitriani.blogspot.com
Boleh, bahkan harus, untuk bertekad memberi manfaat sebanyak mungkin. Berharap tulisan-tulisan yang kita buat, menjadi manfaat dan warisan untuk peradaban. Mengalirkan pahala jariyah yang begitu menyenangkan.
Namun, tetaplah sesuai kapasitas.

Karena, manfaat sekecil apapun, selama itu masih dalam jangkauan kapasitas kita, ia akan mengalir menjadi pahala. Yang ringan saja. Daripada mencoba menuliskan sesuatu yang memang besar manfaatnya, tapi perlu ilmu yang mendalam, rumit teorinya, karena jika ada kesalahan sedikit saja, bisa jadi kacau pemahaman seseorang yang membaca. Ia kalau sedikit, kalau hanya satu orang, jika ratusan, ribuan orang?

Hilanglah pahala yang diharap, malah bisa jadi dosa berlimpah. Ini adalah kesadaran bagi siapapun, terutama diri sendiri, buat apa menulis yang berat-berat, tapi ilmu yang harus dikuasai banyak, bukan kapasitas kita. Jadi apa solusinya? Menulislah yang ringan, tapi tetap bermanfaat, atau gali ilmu sebanyak-banyaknya, untuk bekal menulis yang berat, dan bermanfaat besar. ^^

Allahu a'lam
Minggu, 24 November 2013

Menulis, Kebetulan, dan Keputusan

Sebenarnya ketiga kata tersebut mewakili tiga bab awal yang telah saya baca dari sebuah buku simpel, unik, renyah, santai, berjudul "Ultimate U 2" karya Rene Suhardono. Bagaimana tidak renyah banget, buku itu benar-benar membuat kita merasa, "ini buku gue banget!" bukan karena kita penulisnya, tapi si penulis berbaik hati menyediakan space kosong, satu hingga dua halaman di setiap penghujung bab untuk menjadi arena coret-coret si pemilik buku.

Lalu pada bagian bawah "arena" coret-coret tersebut tertulis, "think less, feel more" menjadikannya sangat keren menurut saya. Buku ini, si penulisnya mendorong kita untuk mengaktualisasi diri kita sebagai pembaca, dan mengaplikasikan apa yang telah kita baca di bab yang bersangkutan. Bebas sekehendak pembaca, bisa saja membuat resume, atau malah coret-coret menggambar di bagian kosong tersebut. Buku ini asik dibaca dari bab mana aja, lalu setiap bab, tak perlu buru-buru menyelesaikan dan membaca bab selanjutnya, justru penulis menyarankan agar kita meresapi dulu satu bab yang kita baca, mencoba melakukannya, sebelum melanjutkan membacanya. Saya pun demikian, dari sekian banyak bab yang ringkas, sepekan ini saya baru membaca tiga bab.

Saya tidak ingin membahas tiga bab tersebut sekaligus meski saya telah menuliskan tiga kata tersebut sebagai judul. Bab pertama, mengajak kita untuk rajin menulis, ah mungkin terlalu formal dan terkesan memaksa ya, baiklah kita ganti dengan, "tak sungkan untuk menulis".

Mengapa harus sungkan dan mengapa harus tak sungkan? Kebanyakan orang, termasuk saya, kadang ragu untuk menulis. Saya sendiri, sejak SMP memang hobi menulis, blogging, namun SMA mulai jatuh, matisuri. Lalu awal kuliah kembali menulis, lalu padam lagi, hingga sekarang saya perlahan mencoba menulis lagi. Rasa sungkan untuk menulis biasanya karena kita terbebani oleh muatan ilmu, agar apa yang kita tuliskan itu memiliki "dalil" atau landasan yang jelas dan tidak ngawur. Khawatir salah menulis. Hal itu tidak salah, memang, kita harus menulis harus berdasarkan ilmu. Apalagi saya seorang Muslim, memahami bahwa, apapun yang kita lakukan, tuliskan, ucpakan, harus memiliki landasan keilmuwan. Baik berupa dalil-dalil syar'i maupun dalil keilmuwan umum, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Kita sampaikan dalam tulisan maupun tidak.

Misalkan saya ingin menulis panduan berwudhu, maka saya tidak boleh hanya menerangkan step by stepnya saja, namun harus disertai dalil berupa ayat maupun hadits, juga keterangan-keterangan penjelas dari ulama yang berkompeten dalam hal tersebut. Karena, dalam Islam, masalah ibadah adalah masalah yang harus ada landasan kuat, harus ada tuntunan aau contoh dari Rosulullah Shollallahu 'alaihi wassallam. Maka dalil yang saya cantumkan berfungsi sebagai pertanggung jawaban, bahwa masalah wudhu yang saya terangkan memang seperti itu, ada dalilnya, bukan suatu yang saya karang sendiri.


Selasa, 08 Oktober 2013

AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SYAITHAN SAAT SAKRATUL MAUT


Dari Abul Yasar radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam selalu berdoa (dengan membaca),

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﺮَﺩِّﻱْ
ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮَﻕِ ﻭَﺍﻟْﻬَﺮَﻡِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﺨَﺒَّﻄَﻨِﻲَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻓِﻲْ
ﺳَﺒِﻴْﻠِﻚَ ﻣُﺪْﺑِﺮﺍً ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣُﻮْﺕَ ﻟَﺪِﻳْﻐﺎً


Allâhumma innî a’ûdzubika minal hadami wa a’ûdzubika minat taraddî wa a’ûdzubika minal
gharaqi wal haraqi wal harami wa a’ûdzubika an yatakhabbathaniyasy syaithânu ‘indal mauti
wa a’ûdzubika an amûta fî sabîlika mudbiran wa a’ûdzubika an amûta ladîghan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kehancuran, aku berlindung
kepada-Mu dari kebinasaan -karena jatuh dari tempat yang tinggi-, aku berlindung kepada-Mu
dari tenggelam, terbakar, dan ketuaan, aku berlindung kepada-Mu dari kerasukan syaithan
saat sakaratul maut, aku berlindung kepada-Mu (dari) ‘aku mati dalam keadaan lari dari jalan-
Mu’, serta aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan (binatang berbisa).”.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dan
Syaikh Muqbil]

Fb: Dzulqarnain M. Sunusi - dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS
Pin BB 4: 298BF677
Kamis, 03 Oktober 2013

Allah Maha Pemurah

Allah Maha Pemurah,
Maha Lembut, Maha Menutupi aib
Maha Penyayang, Maha Pengampun.

kalau dipikir-pikir, berapa banyak aibku, yang telah Allah tutupi, sehingga orang lain tidak tahu.
Kalau tahu.. mungkin tak ada yang mau bergaul denganku...

Dari sekian banyak dosaku, Allah masih memberiku limpahan rizqi, aneka ragam dan rupa.
Aku merasa dilema.
Prasangka baik, akan membawaku berpikir bahwa, itulah Maha Pemurahnya Allah, masih menyayangiku, memberiku rizqi dan usia, agar aku bisa berpikir, untuk lekas meninggalkan dosa-dosaku.

Namun, aku juga harus mengimbanginya dengan perasaan takut, dan juga rasa harap. Aku takut, jika semua kemurahan Allah itu, ternyata, karena saking jauhnya aku kepadaNya, bisa berarti apa-apa.
Namun aku harus tetap berharap, bahwa, aku diberi kesempatan untuk kembali bermuhasabah memperbaiki diri.

Malam ini, mungkin malam keseribu, atau kesekian ribu.
Kembali dekat, lalu jauh, lalu dekat,
berulang kali.

Allah yang Maha pengampun, tak akan bosan didatangi hambaNya yang ingin memohon ampun,
justru, manusialah yang akan bosan sendiri, entah bosan karena terus-terusan berbuat dosa, atau bosan bertaubat. hanya itu yang akan terjadi. Semoga, kita semua termasuk orang-orang yang bosan terus-terusan berbuat dosa mendurhakaiNya.

aamiin. :)

secarik catatanku,
di malam yang tenang ini. semoga bermanfaat.

source gambar : http://bilarindutinggalkata.files.wordpress.com/2012/12/hening.jpg

Secarik Nasihat Tengah Malam

Wahai Pemuda! Engkau harus selalu takut (khawf) dan jangan berangan-angan hingga engkau bertemu Tuhanmu ‘Azza wa Jalla dan kedua kaki hati serta struktur tubuhmu berdiri tegak di hadapan-Nya, lalu engkau dapatkan jaminan keamanan di tanganmu. Barulah setelah itu, engkau boleh merasa aman. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka engkau akan melihat kebaikan yang melimpah di sisi-Nya. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka engkau akan melihat kebaikan yang melimpah di sisi-Nya. Jika Dia telah menjamin keamanan bagimu, maka tenanglah engkau. Sebab, jika Dia telah memberi sesuatu, Dia tidak akan meninjaunya ulang. Ketika Al-Haqq ‘Azza wa Jalla telah menjatuhkan pilihan pada seorang hamba, maka Dia akan mendekatkan hamba tersebut pada-Nya, sehingga manakala ia terserang ketakutan, maka Allah akan memberinya sesuatu yang bisa menghilangkan rasa takut tersebut dan menenangkan hati serta nuraninya, dan itu hanya antara hamba tersebut dan Allah.

(Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 18 Dzulqaidah 545 H, dalam sebuah kitab berjudul “Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faydl ar-Rahmani”.)
Sabtu, 01 Juni 2013

Kemenangan itu...

Petarung Sejati tak akan pernah mengingkari janjinya. 
(Thomas - Dalam Sekuel terkeren : Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk, Tere Liye)

Aku menang bukan karena mengalahkanmu, namun karena aku memenangi pertarungan-pertarungan dalam diriku sendiri, melampaui batas terakhir dari kemenangan-kemenangan yang pernah kuukir sebelumnya. (Rizqon)

(Lalu mengusap hidungnya dengan jempol kanan ala Bruce Lee) :D
Rabu, 29 Mei 2013

Mengais kembali jalan yang hampir hilang : Arsitektur

Semua sudah ditakdirkan, saya memasuki jurusan ini, dengan jiwa yang setengah kecewa dan menerima. Sampai akhirnya, menjelang tahun ketiga, atau menjelang semester 5, baru saya sadari kembali bahwa saya harus bangkit. Bangkit, bahwa inilah jalan yang diberikan Allah.

saya boleh saja lebih lihai dalam hobi daripada amanah ini. Melukis, fotografi, wirausaha, dan sebagainya. Namun passion arsitektur, mau tidak mau, harus saya tumbuhkan. Entah terlambat atau belum, tapi ini masih setengah perjalanan, atau sekian persekian jalan.

Harapan itu masih ada, ya, karena kita, saya, tak boleh putus asa dari rahmat Allah. Saya boleh tetap bekerja part time mencari rizqi untuk penghidupan, namun tugas utama saya di bidang ini, tak boleh ditelantarkan.
Mari bangkit! Berarsitektur untuk kemanfaatan yang lebih besar :)

Sabtu, 27 April 2013

Pesan dari ayah... (1)

Bismillahirrohmaanirrohiim

Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh...
Anakku, malam ini ayah masih belum menemukan nama yang pas buatmu, nama yang akan menjadi doa terindah dari ayah untukmu.

Malam ini pun ayah tidak bisa menghitung, akankah kau lahir di dunia ini, berapa lama lagi.

Namun, ayah ingin mempersiapkan semuanya sedari awal :)

Mulai mengumpulkan serpih-serpihan ilmu dan hikmah yang bisa ayah tangkap.

Karena, jika pesan-pesan ini tidak segera ayah tuangkan, ia bisa mudah menguap hilang.
Ini adalah untai nasihat, entah bisa ringan, bisa berat.
Ayahmu ini bukanlah seorang yang ilmunya banyak.


Anakku, sesungguhnya sebelum membangun apapun dari sebuah rumah, yang pertama kali harus dibuat adalah pondasinya, kita kokohkan, kuatkan dengan bahan-bahan terbaik agar kelak bangunan bisa berdiri kokoh menyelamatkan penghuninya.

Maka pesan pertama ayah saat ini padamu adalah, sebagaimana yang dipesankan oleh sosok yang mulia, yang namanya disebutkan dalam Al-Qur'an yang mulia, Ialah Luqman Al-Hakim, yang berpesan pada anaknya :
Artinya : "Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".   (QS.Luqman [31]: 13)
Anakku, lihatlah, bahwa kesyirikan, menyekutukan Allah adalah sebesar-besarnya kedzaliman. Maka pegang teguhlah kalimat tauhid Laa ilaaha illaLLAAH... jangan sedikitpun kau sekutukan Allah dengan apapun.

Sesungguhnya kenikmatan terbesar bagi seorang hamba ialah berada dalam keadaan Iman dan Islam.
Kedua hal ini laksana sebuah kunci surga. Yang apabila kau jaga dengan baik, ia akan bisa digunakan membuka surga pada waktunya. Namun jika ia kau sia-siakan, berkaratlah ia, dan celakalah surga itu tak bisa terbuka untukmu.

Sekian pesan pertama ini, semoga kau kelak membacanya. Setidaknya, Allah telah melihat, dan semoga ada orang-orang lain yang membacanya dan memegang teguh, mengamalkan dan mengajarkannya, dan menjadikan suatu ilmu yang jariyah bagi ayah yang begitu banyak dosa sehingga membutuhkan ridho dan ampunan Allah.

Solo 27 April 2013


Senin, 04 Maret 2013

Tubuh Sehat = Mentalitas Sehat?

"Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.” 


Demikianlah ungkapan dari filsuf barat yang sering kita dengar. Awalnya kita menyepakatinya. Tapi, sudahkah anda kritis? Apa benar pernyataan tersebut tepat?


Sekarang kita bisa mengingat, Jenderal Sudirman pahlawan bangsa kita, beliau sakitTuberculosis (TBC) hingga paru-parunya hanya berfungsi sebelah, lalu badannya tak kuat lagi berjalan, hingga harus ditandu sepanjang perjalanan dalam perang gerilya melawan agresi penjajah. Apakah jiwa beliau ringkih sebagaimana tubuhnya? Oh, tidak. Bahkan acungan jemarinya dipatuhi ratusan dan ribuan prajuritnya dengan hormat dan bangga.

Syaikh Ahmad Yassin, pendiri Hamas, Apalah arti seorang tua yang lumpuh dan buta sejak remaja, harus hidup dikursi roda? Ternyata beliau laksana singa bagi seekor domba. Tubuh renta rapuhnya ditakuti penjajah nomor satu, Israel yang memiliki jet dan Tank berteknologi tinggi.
Bahkan untuk membunuh beliau, Israel harus menyerangnya dengan rudal HelicopterApache saat beliau pulang sholat subuh dan akhirnya gugur dengan tubuh berantakan. Apakah jiwanya selumpuh raganya? Anda pasti tahu jawabannya.

Lalu, bukankah para koruptor, perampok, mafia, penipu, banyak sekali yang tubuhnya tegap wajahnya tampan mempesona, suaranya menggelegar atau lembut menyejukkan pertanda dirinya sehat sempurna. Apakah jiwanya sesehat dan semantap tubuhnya? Anda tahu jawabnya.
Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
Akhirnya ungkapan kaum materealistis ini runtuh seketika. Mereka hanya menghitung segala sesuatu dari fisik luarnya yang terlihat. Maka, raga bukanlah suatu ukuran.

Bagi kaum yang beriman dan bijaksana, tubuh sehat dan kuat merupakan anugerah untuk bisa berkarya lebih dan bermanfaat bagi sekitar, berjuang lebih keras. Sedangkan tubuh lemah sakit-sakitan adalah ujian penguji iman, dan penguat jiwa. Maka Bagi kaum beriman, kedua keadaan ini tak ada bedanya, sama-sama anugerah yang dapat bermanfaat dan disikapi dengan baik.

(rizqon-averbrain.net/ruangfachriza.com)
Jumat, 01 Maret 2013

7 Alasan Mengapa Kita Harus Menebar Manfaat pada Sekitar

Nabi yang Mulia, Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama. Tentu kita semua akan setuju, karena baik dari suku, bangsa, atau golongan apapun, pada dasarnya manusia memiliki kebaikan dalam dirinya, manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik pada orang lain dalam komunitas sosialnya. 

Karena kita tidak hidup untuk diri sendiri. Sungguh orang yang hidupnya hanya berorientasi pada kesenangan diri sendiri akan mengalami masa-masa bosan dan tertekan karena nafsunya tak pernah puas menginginkan banyak hal, sementara di sisi lain orang tersebut merindukan perhatian dan sapaan dari orang lain yang sulit dia dapat karena begitu mementingkan diri sendiri.

Jadi, mengapa kita perlu menebar manfaat?

1. Karena Allah telah banyak memberi nikmat kepada kita, 

dalam al-Qur'an surah al-Kautsar ayat 1-2, Allah berfirman "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang sangat banyak. Maka dirikanlah sholat dan sembelihlah hewan kurban" Dalam firman tersebut Allah mengingatkan kita bahwa Allah telah memberikan kita nikmat yang begitu besar, dan sebagai balasannya manusia disuruh untuk melaksanakan perintah sholat dan menyembelih kurban. Imam Ibnu Taimiyah mengomentari ayat tersebut dengan berkata, "Allah mengumpulkan dua ibadah sekaligus, yaitu menunaikan sholat dan menyembelih hewan kurban. Inilah kombinasi ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh." menyembelih hewan kurban termasuk ibadah sosial, dimana dengan hewan terebut, kita memberi manfaat kepada sesama dengan dagingnya, kulitnya, dan sebagainya.

2. Bukti ketaatan pada Allah


Tujuan hidup kita sebagai manusia adalah beribadah kepada Allah dalam setiap keadaan.
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu" (Adz-Dzariyat : 56)
dan salah satu caranya adalah melakukan amal-amal sholih yang tentunya amal-amal tersebut kita orientasikan kepada Allah agar tercapai tujuan penciptaan kita.

3. Mengikuti jejak para nabi dan orang-orang sholih terhadulu


sudah jelas tentu, saling menebar manfaat bukanlah tradisi belakangan ini, namun ini merupakan tradisi nabi-nabi terdahulu dan orang-orang sholih. Para nabi menebar manfaat dengan mau berkorban harta dan nyawanya demi tersebarnya ajaran Tauhid demi keselamatan manusia, para sahabat nabi menebar manfaat dengan berbagai cara, ada yang menyumbangkan strategi perang seperti yang dilakukan Salman al-Farisi dalam perang khondaq, ada sahabat yang membebaskan budak yang teraniaya, ada sahabat yang membeli sumur untuk kemashlahatan ummat, para Ulama menebar manfaat dengan rela berkorban harta dan nyawa melintasi berbagai bangsa untuk mencari ilmu dan menebarkannya, dan lain sebagainya. Bahkan, sejatinya alam dan seluruh isinya diciptakan untuk memberi manfaat pada manusia, lebah memproduksi madu yang jumlahnya jauh melebihi yang ia butuhkan, begitu juga susu pada hewan-hewan ternak, itu karena mereka diberi naluri oleh Allah untuk memberi manfaat pada manusia, begitupun bermacam hewan atau makhluk Allah yang lain.

4. Bentuk kepedulian


Rosulullah pernah bersabda, "Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka (Kaum Muslimin)" H.R. Baihaqi

5. Cara memuliakan diri sendiri


Memberikan yang terbaik untuk saudara kita sebenarnya adalah cara memuliakan diri sendiri. Ketika hidup kita hanya dipenuhi rasa ingin memenuhi semua kebutuhan pribadi, maka kita dikatakan pribadi yang kerdil. Namun jika hidup kita diisi dengan berbagai amal kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, tak hanya mementingkan diri sendiri, maka kita disebut sebagai orang yang besar, dan tentu saja itu berarti kita memuliakan diri sendiri dengan memberi manfaat.

6. Karena kita makhluk sosial 


Tak ada yang bisa memungkiri, bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita saling memerlukan satu sama lain. bukankah ketika mata kita kelilipan, kita butuh teman untuk meniup mata kita? Bukankah semua keperluan yang kita beli merupakan hasil jerih payah yang memproduksi atau menyediakannya seperti para petani yang menanam padi dan aneka sayur mayur, peternak yang memlihara ternak-ternak yang dagingnya akan kita konsumsi?

7. Karena kita berbeda-beda


Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan dengan aneka macam keadaannya. Ada yang menjadi kaya, miskin, ada yang menjadi pandai dan ada yang kurang berpendidikan, ada yang sehat dan ada yang hidup dalam penyakit, dan sebagainya. Bukan kah itu berarti agar kita saling menasihati, memberi, dan saling melengkapi?

Demikianlah tujuh alasan mengapa kita harus memberi manfaat kepada siapapun, kepada manusia, hewan, maupun alam yang sejatinya juga akan kembali untuk kemashlahatan manusia. Berkontribusilah pada kehidupan ini, sekecil apapun, dan apapun yang kita sanggupi, apapun potensi kita, gunakanlah itu sebagai sarana untuk berbagi manfaat. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya menyingkirkan paku-paku yang bertebaran di jalan. Yuk sahabat, kita saling memberi manfaat pada sesama.

tulisan tahun lalu, repost (
Rzqn/averbrain.net) - See more at: http://www.ruangfachriza.com/2012/03/7-alasan-mengapa-kita-harus-menebar.html#sthash.n0P8wj5j.dpuf