Kamis, 19 Desember 2013

Malam Keseribu

Malam keseribu
Aku meneguk datarnya kopi secangkir
yang paginya menusuk rongga dan diafragma dada

Malam keseribu
Aku mereguk dingin
Menghitam hitamkan malam

Malam Keseribu
Aku menghitung hitung
Lalu bangkit



Malam Keseribu
Dengan seribu tanya
Bahwa debu akan terus terbang

Malam Keseribu
Saat kembali terbuka mata
Aku menggapai-gapai

Malam Keseribu
bahwa hidup adalah harapan
karena putus asa adalah kekufuran

20/12/2013
02.12
Jumat, 06 Desember 2013

Nulis, Nglukis

Kadang, sebelum menulis, menekan tuts-tuts keyboard, saya harus memikirkan apa yang akan saya tulis, manfaatnya, dasar-dasarnya, dan lain lain selama beberapa menit. Setengah jam. Satu Jam. Namun di saat yang lain, bisa terjadi begitu saja. Nyalakan Notebook, buka media untuk menulis (ms word, blog, dll), langsung terketik apa yang ingin saya tulis.

Menulis. Rasanya, bisa dipandang culun, jika sudah seusia kepala dua namun masih membahas soal menulis. Apalagi sebenarnya sejak awal SMP saya sudah suka menulis. Ah, tidak ada yang terlambat. Bahkan penulis dengan karya ratusan best seller pun, tidak culun sama sekali jika akhirnya ia lagi-lagi harus menulis tentang "menulis". Menulis itu seperti cinta. Cinta, akan ditulis terus sepanjang zaman. Dengan aneka judul yang ada, pembahasan yang ada. Ia akan terus ditulis. Cinta akn terus dikobarkan dan diceritakan.

Sama dengan menulis. Ia akan selalu ditulis, dikobarkan, agar orang-orang yang baru lahir ke dunia, akan membaca lebih banyak artikel atau jurnal tentang menulis setiap masanya.
dokumentasi pribadi

Dalam mencari inspirasi untuk menulis, memang perlu kita tentukan dulu niat kita menulis. Jika masih belum punya niat ideal untuk menulis, terus saja menulis. Untuk melatih kebijaksanaan, kepekaan, mengolah data yang pernah kita terima, menyajikan pengalaman yang pernah kita dapatkan, agar bisa kita bagikan pada orang lain.

Saya hobi menulis sekaligus melukis. Meski pada faktanya karya lukis saya jauh lebih banyak daripada karya saya yang berbentuk tulisan.  Keduanya adalah hobi yang "melankolis", memakai perasaan. Sebab itulah, saya sangat jarang bahkan payah untuk menuliskan hal-hal yang sifatnya sangat ilmiah maupun objektif, karena emosi saya sangatlah kental.

Suatu ketika saya benar-benar badmood, lelah, hampir tertekan, bingung, dengan tugas perkuliahan yang saya kerjakan. Kalau saat itu tiba, saya memilih untuk tidur. Berharap bermimpi indah sebagai penghibur. Namun ada tiga kebiasaan lain yang juga saya lakukan ketika kondisi itu hadir. Saya langsung meninggalkan tugas-tugas kuliah saya tadi.

Pertama, saya memilih untuk mengambil kanvas atau kertas dan alat lukis saya, lalu saya pun melukis. Melukis apapun, baik dari objek nyata maupun fantasi. Jika hal itu tak berhasil karena tidak punya inspirasi melukis, saya memutuskan untuk pergi ke pasar ikan hias dan melihat-lihat ikan hias yang ada di sana hingga puas dan merasa segar.

Hal ketiga yang saya lakukan adalah pergi ke toko buku. Bukan untuk membeli, membeli adalah pilihan kesekian saya, sementara membaca di tempat, adalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama ketika ke toko buku, justru adalah menyegarkan mata dengan melihat aneka desain dan warna cover-cover buku. Yang ujung-ujungnya setelah pulang dan sampai kamar, saya kembali menyusun ingatan-ingatan tentang warna tadi ke dalam kanvas untuk melukiskannya. Saya tidak hendak memindahkan cover buku di toko buku ke kanvas, melainkan saya mentransfer suasana hati ketika melihat cover-cover itu, ke dalam kanvas yang saya punya. Sangat menyenangkan.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Saya bisa dapatkan di luar, di sela-sela pepohonan, usai menonton film, dan banyak lagi.

Rabu, 04 Desember 2013

Menuju Nikah

Muslim_Couple__Lebanon__by_SDagher
Bismillah...
Berat banget nulis ini. Serius, ini memang pembahasan berat. :D
tapi tenang, dengan kapasitas saya ini, apalagi belum menikah,
saya tidak akan panjang lebar kok.

Cuma ingin berbagi, hehe..
ini ada link keren ^^
silahkan di buka yaa..

MenujuNikah

Semoga bermanfaat ^^

Dua Kutub

Memiliki dua hobi yang banyak, dimana hobi-hobi, atau kesukaan tersebut memiliki dua kutub yang sangat berjauhan dan saling kontradiksi, membuat hidup menjadi seimbang. Kurasa.

Di satu kutub bernama kelembutan, berkumpullah "melukis", "berkebun", "menulis", "mencari inspirasi dengan menghirup nafas pepohonan", dan sebagainya. Sementara di kutub lain bernama "Kekuatan", berkumpullah "berkuda", "memanah", mendaki", "menjelajah", dan sejenisnya.

Semua itu sangat nikmat. Suatu kenikmatan. Adalah keseimbangan.
Itu berarti kau memiliki memiliki kekuatan, namun kau tetap lembut.
Dan saat kau (aku?) menuliskan ini semua, kutub "kelembutan" sedang "bekerja".
:)

#EdisiIntermezo

Minggu, 01 Desember 2013

Indonesia Diambang Kehancuran : PEKAN KONDOM NASIONAL

Dari data statistik yang dimuat  http://www.spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1,

Statistik Kasus AIDS di Indonesia – dilapor s/d Juni 2013









Dalam triwulan April s.d. Juni 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS sebagaimana berikut:
  • HIV: 5369
  • AIDS: 460
Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 30 Juni 2013 adalah:
  • HIV: 10210
  • AIDS: 780
Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 30 Juni 2013, terdiri dari:
  • HIV: 108600
  • AIDS: 43667
sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI
1 Desember ini, merupakan hari peringatan AIDS sedunia. Alih-alih memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjauhi sumber penularan HIV/AIDS, kemenkes dan KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) malah melaksanakan program PKN atau Pekan Kondom Nasional yang akan diadakan dari tanggal 1 sampai 7 Desember 2013. Dalam PKN, program yang dilakukan adalah pembagian kondom gratis ke seluruh lapisan masyarakat.

Apa yang ada dipikiran anda? Ya, benar. Negeri ini semakin terancam, sudah krisis moral, eh akan ditambahkan lagi kerusakan moralnya melalui "solusi kondom". Seakan-akan, melalui program ini, kemenkes, pemerintah, yang mewakili generasi tua, berbicara kepada generasi muda, anak-anaknya sendiri, "Nak, silahkan kalian melakukan seks bebas, asalkan ada kondom, kalian akan bebas AIDS, (lalu bebas hamil, dst)" Subhanallah...

Padahal, kalau kita mau berpikir, itu tidak menyelesaikan masalah sama sekali, malah menambah angka penyebaran AIDS yang kita ketahui sebagian besar terjadi karena freesex, dan daerah penyebarannya di lokalisasi-lokalisasi tempat pelacuran. Mengapa bukan solusi? Ukuran pori-pori kondom adalah 0,1 mikron, sementara ukuran virus HIV/AIDS adalah 0,004 mikron. Jadi dengan mudah virus tetap bisa menyeberang melalui kondom.

Bukankah Islam telah mempunyai Solusi, yaitu jangan mendekati zina? inilah yang harusnya disosialisasikan kepada generasi muda. Dengan menjauhi zina, tempat-tempat pelacuran, menghambat freesex, maka angka penularan HIV/AIDS otomatis akan berkurang.

Jika ingin merusak generasi bangsa ini, inilah caranya, melalui Pekan Kondom Nasional. Tidak takutkah apabila ada Tsunami jilid dua sebagai azab kemerosotan moral bangsa ini? Inilah jika negara ini berhukum dengan hukum yang bukan berasal dari Hukum Allah. Semaunya sendiri, mengikuti kehendak arus mayoritas negara liberal.

Betapa parahnya negeri ini, astaghfirullah...