HARI BUMI 2013 : Kontemplasi terhadap Kerusakan Bumi
Oleh Mohammad Rizqon Febriansyah
Setiap tanggal 22
April, hampir seluruh
negara di dunis memperingati Hari Bumi.
Hari Bumi diperingati untuk membangun kesadaran dan rasa penghargaan terhadap
bumi yang selama ini kita tinggali. Peringatan ini dicanagkan oleh Seenator
Amerika Serikat bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970, ia merupakan seorang
pengajar lingkungan hidup. Pada tanggal ini bertepatan dengan musim semi di
bumi bagian utara dan musim gugur di bagian selatan.
Berbicara mengenai bumi, kita sebagai Umat Islam, harusnya lebih memberi penghargaan terhadap bumi yang kita tinggali
ini. Dalam Al-Qur’an, kata “ardh” yang berarti bumi disebutkan sebanyak 461
kali. Hal ini menunjukkan betapa besarnya Allah memberi perhatian pada bumi
yang kita tinggali ini.
“(Mengapa kamu
ragu-ragukan kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang telah mati?)
Bukankah Kami telah menjadikan bumi
(terbentang luas) sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)
Ayat di atas adalah salah satu contoh bagaimana Allah
berfirman mengenai bumi. Demikianlah kekuasaan Allah, menciptakan bumi sebagai
hamparan untuk kita tinggali. Maka sebagai orang beriman, kita harus
benar-benar mensyukurinya. Namun, sekitar satu abad belakangan ini, bumi kian
menunjukkan kerusakan yang terjadi padapermukaannya. Mulai dari adanya polusi
tanah, air, udara, yang semuanya itu akhirnya mengakibatkan dampak yang lebih
luas lagi yaitu peningkatan suhu yang selama
ini kita kenal dengan Global Warming.
Kita bisa mengetahui bahwa awal mula kerusakan ini adalah
adanya revolusi industri besar-besaran di Eropa yang membuat banyak sekali
perubahan dalam pabrik yang kian banyak menggunakan tenaga mesin yang
mengeluarkan asap, kemudian revolusi itu menyebar kemana-mana termasuk
Indonesia. Selain itu, kita juga mengetahui bahwa adanya perang besar yang
terjadi pada abad 20, yaitu perang dunia 1 dan 2, telah merenggut banyak nyawa,
menumbangkan pohon-pohonan, pengerukan sumber daya besar-besaran, akhirnya
menyumbang besar dalam perusakan bumi. Sehingga, ayat Allah yang agung kini
sedang terjadi :
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan
(maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar
Ruum:41).
Akhirnya,
selain aneka polusi dan krisis sumber energi, kita sering dilanda bencana alam.
Bencana alam ini, rupanya bisa pula karena bumi ini, penduduknya kian durhaka
pada Allah ta’ala. Manusia kebanyakan berbuat maksiat. Seperti yang tersebut
dalam ayat Allah di atas.
Jauh sebelum Gaylord Nelson mencanangkan peringatan hari Bumi pada
1970 untuk menyadarkan manusia agar lebih mengapresiasi bumi mereka sendiri dan
tidak merusaknya, Allah melalui Al-Qur’an telah terlebih dahulu mengkampanyekan
hal ini. Mari kita simak ayatnya :
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah
(diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh
harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat
kebaikan. (QSS Al-A’raf : 56)
Lalu, bagaimanakah kita menyikapi ayat ini sekaligus menyikapi Peringatan
Hari Bumi dan juga realita bahwa bumi hari ini kian menuju kehancurannya? Apa aksi
kita sebagai Muslim untuk membantu menyelamatkan bumi dan penduduknya dari
kerusakan yang lebih besar lagi, atau setidaknya mengulur waktunya? Inilah
sebuah pertanyaan yang akan terjawab dengan sangat luar biasa oleh keagungan
dan kesempurnaan agama ini.
Al-Islam telah memberi solusi yang begitu cemerlang. Mari kita simak sabda nabi
Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassallam berikut :
1. “Tak ada seorang muslim yang
menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan,
kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.”
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab
AL-Muzaro'ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]
2. “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan
dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman
tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi
melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Imam Muslim Hadits no.1552)
3. “Tidaklah seorang muslim menanam
tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan
tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.”
(HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
4. “Sekiranya hari kiamat hendak
terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma
maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia
menanamnya.”
(HR.
Imam Ahmad)
MasyaaLLaah.
demikianlah solusi yang ditawarkan Islam. Ia tak sekedar mengandung makna akan
adanya manfaat dari sisi duniawi semata, namun ia akan pula sampai ke akhirat,
yaitu adanya pahala dalam kebaikan tersebut.
Pesan tersebut disabdakan oleh Rosulullah mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi
wassallam, dimana perkataan beliau tidakah datang dari hawa nafsunya, namun
melalui bimbingan Allah ta’ala. Pesan tersebut telah disabdakan semenjak 14an
abad yang lalu, jauh sebelum organisasi-organisasi semacam GreenPeace berdiri
untuk mengajak mencintai lingkungan. Dari hal terkecil dan sederhana saja,
Islam telah menganjurkan Umatnya untuk menanam pohon dengan balasan pahala yang
sedemikian rupa, bahkan dalam hadits yang memerintahkan tetap menanam meski
kita akan tahu bahwa esok harinya akan terjadi kiamat, selain mengandung makna
penyelamatan bumi sampai dipenghujungnya dengan cara menanam pohon, hadits
tersebut pun menyiratkan makna bahwa tidak ada kata terlambat untuk berproses
menjadi lebih baik, termasuk urusan memperbaiki lingkungan.
Mengapa harus pohon? Iya, karena awal petaka yang terjadi di bumi ini, secara
langsung maupun tidak bermula dari berlebihannya jumlah pohon yang ditebang
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Secara langsung, berkurangnya pohon
menyebabkan luas paru-paru dunia menyempit, artinya, polusi udara yang terjadi
kian sulit difilter dan dijernihkan oleh pepohonan ini melalui dedaunannya yang
hijau. Secara tak langsung, dengan berkurangnya populasi pohon, banyak sekali
tanah-tanah yang menjadi semakin kering dan gersang, lahan penyerapan air
berhenti bekerja, akhirnya terjadi kerusakan seperti tanah longsor dan banjir.
Nah, sebagai penutup, yuk kita sebagai Muslim harus lebih cinta terhadap
lingkungan di atas bumi ini daripada ummat yang lain. Mulai dari hal kecil,
dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Bijak-bijaklah menggunakan energi,
membuang dan memilah sampah pada tempatnya, dan jika ingin meraih pahala yang
lebih, yuk kita menanam pohon, untuk menghidupkan sunnah Rosulullah, juga untuk
menyelamatkan bumi kita yang kian gersang dan rusak ini. (rizqon)