Jumat, 01 Maret 2013

7 Alasan Mengapa Kita Harus Menebar Manfaat pada Sekitar

Nabi yang Mulia, Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama. Tentu kita semua akan setuju, karena baik dari suku, bangsa, atau golongan apapun, pada dasarnya manusia memiliki kebaikan dalam dirinya, manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik pada orang lain dalam komunitas sosialnya. 

Karena kita tidak hidup untuk diri sendiri. Sungguh orang yang hidupnya hanya berorientasi pada kesenangan diri sendiri akan mengalami masa-masa bosan dan tertekan karena nafsunya tak pernah puas menginginkan banyak hal, sementara di sisi lain orang tersebut merindukan perhatian dan sapaan dari orang lain yang sulit dia dapat karena begitu mementingkan diri sendiri.

Jadi, mengapa kita perlu menebar manfaat?

1. Karena Allah telah banyak memberi nikmat kepada kita, 

dalam al-Qur'an surah al-Kautsar ayat 1-2, Allah berfirman "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang sangat banyak. Maka dirikanlah sholat dan sembelihlah hewan kurban" Dalam firman tersebut Allah mengingatkan kita bahwa Allah telah memberikan kita nikmat yang begitu besar, dan sebagai balasannya manusia disuruh untuk melaksanakan perintah sholat dan menyembelih kurban. Imam Ibnu Taimiyah mengomentari ayat tersebut dengan berkata, "Allah mengumpulkan dua ibadah sekaligus, yaitu menunaikan sholat dan menyembelih hewan kurban. Inilah kombinasi ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh." menyembelih hewan kurban termasuk ibadah sosial, dimana dengan hewan terebut, kita memberi manfaat kepada sesama dengan dagingnya, kulitnya, dan sebagainya.

2. Bukti ketaatan pada Allah


Tujuan hidup kita sebagai manusia adalah beribadah kepada Allah dalam setiap keadaan.
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu" (Adz-Dzariyat : 56)
dan salah satu caranya adalah melakukan amal-amal sholih yang tentunya amal-amal tersebut kita orientasikan kepada Allah agar tercapai tujuan penciptaan kita.

3. Mengikuti jejak para nabi dan orang-orang sholih terhadulu


sudah jelas tentu, saling menebar manfaat bukanlah tradisi belakangan ini, namun ini merupakan tradisi nabi-nabi terdahulu dan orang-orang sholih. Para nabi menebar manfaat dengan mau berkorban harta dan nyawanya demi tersebarnya ajaran Tauhid demi keselamatan manusia, para sahabat nabi menebar manfaat dengan berbagai cara, ada yang menyumbangkan strategi perang seperti yang dilakukan Salman al-Farisi dalam perang khondaq, ada sahabat yang membebaskan budak yang teraniaya, ada sahabat yang membeli sumur untuk kemashlahatan ummat, para Ulama menebar manfaat dengan rela berkorban harta dan nyawa melintasi berbagai bangsa untuk mencari ilmu dan menebarkannya, dan lain sebagainya. Bahkan, sejatinya alam dan seluruh isinya diciptakan untuk memberi manfaat pada manusia, lebah memproduksi madu yang jumlahnya jauh melebihi yang ia butuhkan, begitu juga susu pada hewan-hewan ternak, itu karena mereka diberi naluri oleh Allah untuk memberi manfaat pada manusia, begitupun bermacam hewan atau makhluk Allah yang lain.

4. Bentuk kepedulian


Rosulullah pernah bersabda, "Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka (Kaum Muslimin)" H.R. Baihaqi

5. Cara memuliakan diri sendiri


Memberikan yang terbaik untuk saudara kita sebenarnya adalah cara memuliakan diri sendiri. Ketika hidup kita hanya dipenuhi rasa ingin memenuhi semua kebutuhan pribadi, maka kita dikatakan pribadi yang kerdil. Namun jika hidup kita diisi dengan berbagai amal kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, tak hanya mementingkan diri sendiri, maka kita disebut sebagai orang yang besar, dan tentu saja itu berarti kita memuliakan diri sendiri dengan memberi manfaat.

6. Karena kita makhluk sosial 


Tak ada yang bisa memungkiri, bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita saling memerlukan satu sama lain. bukankah ketika mata kita kelilipan, kita butuh teman untuk meniup mata kita? Bukankah semua keperluan yang kita beli merupakan hasil jerih payah yang memproduksi atau menyediakannya seperti para petani yang menanam padi dan aneka sayur mayur, peternak yang memlihara ternak-ternak yang dagingnya akan kita konsumsi?

7. Karena kita berbeda-beda


Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan dengan aneka macam keadaannya. Ada yang menjadi kaya, miskin, ada yang menjadi pandai dan ada yang kurang berpendidikan, ada yang sehat dan ada yang hidup dalam penyakit, dan sebagainya. Bukan kah itu berarti agar kita saling menasihati, memberi, dan saling melengkapi?

Demikianlah tujuh alasan mengapa kita harus memberi manfaat kepada siapapun, kepada manusia, hewan, maupun alam yang sejatinya juga akan kembali untuk kemashlahatan manusia. Berkontribusilah pada kehidupan ini, sekecil apapun, dan apapun yang kita sanggupi, apapun potensi kita, gunakanlah itu sebagai sarana untuk berbagi manfaat. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya menyingkirkan paku-paku yang bertebaran di jalan. Yuk sahabat, kita saling memberi manfaat pada sesama.

tulisan tahun lalu, repost (
Rzqn/averbrain.net) - See more at: http://www.ruangfachriza.com/2012/03/7-alasan-mengapa-kita-harus-menebar.html#sthash.n0P8wj5j.dpuf

Seni dan Kehidupan

Beberapa abad terakhir, seni menjadi suatu hal yang begitu menarik dan mendapatkan apresiasi yang tinggi. Seni merupakan ekspresi jiwa yang tertuang dalam beraneka media. Bisa diartikan dengan sederhana bahwa segala hal yang mengandung unsur keindahan atau estetika, itulah seni. Seni sudah menemani sejarah perjalanan hidup manusia sejak dahulu, lihatlah betapa banyak peninggalan-peninggalan dari prasejarah yang berupa cap telapak tangan di dinding-dinding gua, maupun lukisan-lukisan dinding. Begitu juga beragam motif pada peralatan berbagai suku dan bangsa. Setidaknya hal tersebut membuktikan kemungkinan bahwa seni yang pertama kali muncul adalah seni rupa dua dimensi.

Seni merupakan ekspresi jiwa. Semakin hari, manusia semakin kompleks permasalahan hidupnya, sehingga untuk mengekspresikan segala macam perasaannya, kini telah berkembang pesat berbagai macam seni. Dahulu hanya bisa dijumpai seni rupa baik dua dimensi maupun tiga dimensi berupa patung maupun seni arsitektur, lalu seni musik, seni drama, dan seni tari. Kita bisa jumpai bahwa sekarang ada beraneka macam hal yang menjadi cangkupan dalam definisi seni, mulai dari seni grafis modern, seni pertunjukan, seni dalam kepenulisan yang melahirkan sastra, bahkan beladiri yang telah ada sejak berabad-abad lalu kini mendapat gelar sebagai seni beladiri karena adanya unsur keindahan dalam gerakan para pegiat beladiri tersebut. Seni tata boga, bagaimana sebuah hidangan tak hanya sedap di hidung dan di lidah, namun memiliki penataan yang indah dan menarik mata anda. Bahkan pornografi pun dianggap seni oleh sebagian kalangan, yang tentu saja ini sangat melanggar norma dan etika agama maupun masyarakat yang ada.

Sekarang, coba lihat sekeliling anda, cukup didalam kamar saja. Ada berapa banyak benda yang berkaitan dengan seni? Apakah anda termasuk  yang berpikir sampul buku-buku anda itu tidak ada nilai seninya? Lihat betapa indah dan menarik warnanya. Kita bisa lihat bagaimana desain lemari pakaian anda, baju yang anda kenakan, bahkan kitab suci kita dibungkus dengan sampul dan motif yang luar  biasa tinggi nilai seninya. Belum lagi, sejumlah file mp3 yang ada di handphone dan laptop anda. Ups, hampir kita lupa, bahwa sekarang beragam permasalahan dalam kehidupan anda menuntut adanya seni. Ya, bagaimana anda memecahkan masalah, bagaimana anda memimpin suatu masa juga merupakan seni yang patut diasah. Jadi, mungkinkah hidup anda tanpa seni? (Rizqon)
repost dari averbrain.net, tulisan saya tahun lalu.
Minggu, 24 Februari 2013

Bangsa Latah dan Bedebah

Setelah puas ber-Gangnam Style, kini rakyat Indonesia, kembali diguncang dengan tarian latah bernama Harlem Shake. Sungguh memalukan. Tarian-tarian yang dimiliki Indonesia, sudah sangatlah banyak, dan memiliki gerakan yang anggun, digantikan dengan tarian yang tak karuan dan aneh. Mereka menari sembarangan, dengan atribut-atribut yang konyol, bahkan cenderung merendahkan martabatnya sendiri jika sampai ia ikut-ikutan menari lalu sampai dipublish di media internet videonya. Saya heran, mengapa mudah sekali kita jadi bangsa yang latah ikut-ikutan. Menjijikkan sekali. Yang seperti ini akan menjadi pemimpin di masa depan? Cuih, pergi ke laut saja.


Sudah terlalu lama, bangsa ini dilenakan, dimanja-manja, dan sekaligus secara tersirat atau tersurat dipermalukan melalui trend-trend yang dianggap asyik, gaul, dan penuh kehura-huraan.
Sebenarnya, apa yang ada di benak mereka yang begitu latah mengikuti trend-trend yang beredar tanpa mau menyaringnya terlebih dahulu?
Baiklah, demikian tulisan emosional saya. Saya mengerti, karena rakyat belum menerima edukasi yang layak untuk bermental cerdas dan memiliki harga diri. Ini tentu menjadi tugas kita bersama. Era globalisasi, mana mungkin kita bisa membendung segala hal masuk ke negeri kita. Teknologi kian canggih, maka yang perlu dibenahi adalah kita, masyarakat Indonesia, agar cerdas menyikapinya. (riz)